Showing posts with label Laput. Show all posts
Showing posts with label Laput. Show all posts
*

Memperkenalkan Teori Jurnalistik dalam Fase Ruang

26 February 2013

Unit Pers Mahasiswa (UPM) Millenium, STAIN Jember, kembali menggelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD). Dalam fase ruang PJTD yang ke-VII kali ini, para peserta diperkenalkan materi jurnalistik dasar. Kegiatan yang diselenggarakan di Kampus STAIN Jember ini, turut melibatkan beberapa wartawan daerah, dosen, maupun Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember.  

Dalam fase lapang yang diikuti oleh 15 orang mahasiswa calon anggota magang UPM Millenium ini, penyampaian teori jurnalistik dituamakan pada teknik bernarasi. Seperti yang diungkapkan oleh M. Syarifuddin, Ketua Panitia PJTD VII, “Fokusnya masalah penulisan, terutama masalah hardnews,” ujarnya.

Sedangkan tujuan dari diadakannya kegiatan ini selain sebagai pengenalan materi dasar juga sebagai persyaratan untuk menjadi anggota. “Sebagai persyaratan menjadi anggota millenium. Juga mereka diperkenalkan dengan masalah jurnalistik dasar sebagai acuan mereka dalam berproses di Millenium pada nantinya,” imbuh Syarifuddin.

Banyak hal yang didapatkan oleh para peserta PJTD VII. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu peserta PJTD VII, Khuliatuz Zahro, Mahasiswa Jurusan Dakwah Program Studi KPI 12’, “Materi-materi teknik wawancara, bagaimana caranya mendapatkan info yang sebanyak-banyaknya dari nara sumber. Bisa mengatur redaksi bersama teman-teman, menambah ilmu buat melayout, kemudian fotografi yang paling saya suka,” ungkap Zahro menceritakan seputar apa yang dia dapat dari pelatihan dasar itu.[LJ]
Read Post | komentar

Utamakan Minat dan Kemampuan

Digelarnya Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) VII, Unit Pers Mahasiswa (UPM) Millenium, STAIN Jember, terbagi menjadi dua fase yaitu ruang dan lapang. Sebelum mengikuti PJTD VII, para peserta terlebih dahulu harus melewati alur penyeleksian. Hingga akhirnya dari 45 orang calon peserta hanya 15 orang saja yang bisa mengikuti PJTD VII.

Seperti yang diungkapkan M. Syarifuddin, Ketua Panitia PJTD VII, “Awal masuk ada 45 orang pendaftar PJTD. Ketika dites administrasi yang lulus hanya 35 orang. Kemudian pada tahap kedua ada wawancara, dari tahap ini yang lulus hanya 15 orang yang siap untuk mengikuti PJTD,” ujarnya.

Selain itu, PJTD VII juga merupakan langkah awal bagi para peserta untuk menjadi anggota magang UPM Millenium. Sedangkan parameter untuk lolos menjadi anggota magang yaitu para peserta harus memiliki tingkat antusias yang tinggi dan bakat. “Yang pertama dia itu mempunyai minat yang tinggi dan kemampuan dasar,” lanjut Syarifuddin.[]
Read Post | komentar
*

Pelantikan Pengurus Dewan Kesenian Kampus

11 December 2012


Pengambilan sumpah jabatan pengurus DKK periode 2012-2013. (KholidR/Ideas)

Senin malam (10/12), mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Jember (FS-UJ) memadati ruangan aula FS-UJ. Mereka menghadiri agenda pelantikan pengurus Dewan Kesenian Kampus (DKK) periode 2012/2013. Malam itu, kawan-kawan perwakilan dari semua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di FS-UJ juga turut serta mengikuti prosesi acara pelantikan.

Yustin, salah seorang anggota DKK membacakan puisi "Selamat Pagi Indonesia" karya Sapardi Djoko Darmono dengan penuh penghayatan sebelum serah terima jabatan dan pelantikan dilaksanakan. Tepuk tangan pun kemudian menggema dari dalam ruangan aula.

Setelah itu, Santiman, Kepala Sub. Bagian Kemahasiswaan, membacakan Surat Keputusan (SK) kepengurusan DKK periode 2012-2013. Kemudian dalam suasana yang khidmat, Drs. Hadiri, M.A., Pembantu Dekan III FS-UJ, mengambil sumpah jabatan dari semua pengurus yang dilantik malam itu

Khusnal Alifi atau yang akrab dipanggil E'el, ketua umum DKK periode 2012-2013, mengatakan harapannya, "Semoga DKK  untuk kedepannya bisa lebih produktif dalam berkarya." Selain dikenal sebagai UKM yang bergerak dalam bidang kesenian, DKK juga dikenal sebagai UKM yang sangat kreatif dan solid. Seperti yang dikatakan oleh Hudi, "Meskipun di DKK ada banyak bidang, namun anak-anaknya terlihat sangat kompak dan kreatif dalam berkarya," ujar wakil ketua umum UKM Pusat Olah Raga Sastra (Porsa) yang menghadiri acara pelantikan malam itu. [KholidR/Ideas]
Read Post | komentar
*

Mengingat Kembali Tradisi Musik Patrol Jember

28 July 2012


Peserta Carnaval Musik Patrol XII, sedang berduel dengan kelompok lainnya. (LJ/Ideas)


Dalam sebuah tradisi, terdapat identitas kedirian yang paling sakral. Keberadaan tradisi sendiri selalu menjadi dan mengada dalam kelompok, komunitas atau kolektivitas. 

Sabtu malam, sampai senin dini hari (28-29/07), Jember mencoba mengemas tradisi menjadi sebuah pertunjukan. Tradisi yang telah menubuh dalam kedirian Jember sendiri tersebut adalah musik patrol. Seperti yang diungkapkan dalam press release, panitia pelaksana Karnaval Musik Patrol XII (KMP XII), “Karnaval Musik Patrol merupakan sebentuk usaha untuk melestarikan kesenian tradisi yang mulai meredup eksistensinya karena tergeser oleh arus modernisasi.”

Kegiatan KMP XII ini, diselenggarakan kesekian kalinya, oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Kesenian Universitas Jember (UKMK UJ). Kegiatan mengingat bersama tradisi khas Jember ini, bekerjasama dengan beberapa UKM Fakultas di UJ. Hal ini ditandai dengan meriahnya acara yang diisi oleh pertunjukan musik dari beberapa mahasiswa UKM Fakultas.

Awalnya musik patrol ini dikenal masyarakat Jember, sebagai permainan musik secara berkelompok, yang diarak menyisir jalan untuk membangunkan sahur di bulan ramadhan. Tim patrol yang menjadi peserta, berjumlah 16 kelompok diantaranya, Tourist Patrol, Putra Cempaka, Zhaller, Idola Musik Patrol, Irama Kenanga, Rebloker, Arepat, Repastra, Kantra, Putra Arsela, Ardatim, Larkam 7, Putra Bhirawa, Arekal, Tectona, dan Kharisma. Beberapa tim tersebut, memulai perjalanan dari Double Way UJ, kemudian harus menempuh rute menuju Jalan Mastrip, Jalan P.B. Soedirman, dan menyentuh garis finis di Jalan Samanhudi atau Alun-alun Kota Jember.

Ketika sampai di garis finish, diadakan duel patrol yang berlabel ‘Patrol Carok’. Dalam duel tersebut, kelompok yang pertama menyentuh garis finis, berhenti sejenak di depan panggung, bertanding dengan urutan setelahnya, saling beradu ketangkasan memainkan musik patrol. 

Di sisi lain, nantinya di ujung kegiatan KMP XII ini, kelompok patrol akan diseleksi untuk mencari sembilan nominasi kejuaraan. Ragam nominasi tersebut adalah aransemen musik terbaik, desain artistik terbaik, best performance, aksi panggung terbaik, pemain seruling terbaik, vokal terbaik, instrumen terbaik, foto terbaik dan terfavorit. Total hadiah dari keseluruhan nominasi sebesar Rp 10 juta. [LJ]
Read Post | komentar
*

Festifal Gerak Jalan Egrang Beregu Ramaikan Ledokombo

08 July 2012

Teriknya mentari Sabtu siang (7/70) itu, tak menjadi halangan bagi masyarakat Ledokombo untuk berkumpul di alun-alun. Tanoker, sebuah komunitas belajar ledokombo, yang dalam bahasa indonesia mempunyai arti kepompong, bekerjasama dengan Musyawarah pemimpin kecamatan (Muspika) Ledokombo, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ledokombo, dan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Ledokombo mengadakan 'Festival Egrang Ke-3’. 

Dalam kegiatan gerak jalan egrang beregu, diikuti oleh peserta dari murid sekolah, madrasah, sanggar, surau dan masyarakat  desa di kecamatan Ledokombo. Upaya untuk melestarikan permainan tradisional tersebut bertujuan untuk membangkitkan kreaktifitas masyarakat, terutama anak-anak guna menciptakan ‘dunia egrang unik’ di Ledokombo, melalui berbagai kegiatan dan produk kreatif. Diharapkan hal ini akan berdampak positif bagi pengembangan sosial ekonomi masyarakat Ledokombo, Seperti yang telah dilansir oleh tanoker.org.

Para juri gerak jalan egrang beregu ini, berasal dari dalam dan luar negeri, yakni Fleur Hamilton (Australia), Alissa Abdurahman Wachid (Yogyakarta), Jordon Benner (Amerika Serikat), dan  Song Sokphearhat (Kamboja).[]
Read Post | komentar
*

Terpilihnya Sekjen Setelah Muskot Selama Tiga Hari

27 June 2012

Forum peserta Musyawarah Kota PPMI DK Jember yang dilaksanakan Sabtu- Senin, 23-25 Juni 2012, di LPM Aktualita.


Pada puncak kegiatan Musyawarah Kota (Muskot) PPMI Kota Jember (PPMI DK Jember), Senin dini hari (26/6), bertempat di Mini Hall Gedung D Universitas Muhammadiyah Jember,  diwarnai dengan bergugurannya keabsahan calon Sekertaris Jenderal (Sekjen) PPMI DK Jember. 

Setiap bakal calon yang lolos menjadi calon Sekjen, menyatakan dirinya tidak sanggup untuk mengemban tanggung jawab menjadi Sekjen PPMI DK Jember. Hingga  dewan formatur yang terdiri dari mantan Sekjen dan Pemimpin Umum (PU) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), berupaya membentuk forum rembuk untuk merumuskan calon Sekjen PPMI DK Jember. 

Pembahasan dalam forum rembuk berlangsung alot. Namun pada akhirnya diantar dengan berbagai pertimbangan yang matang, terpilih Dian Teguh Wahyu Hidayat, Litbang LPM Manifest, sebagai Sekjen PPMI DK Jember dalam periode kepengurusan 2012-2014. Proses terpilihnya Teguh melalui jalur musyawarah tanpa mekanisme voting. Di sisi lain lewat musyawarah mufakat pula, terpilih Muhamad Yasin, Pemimpin Redaksi LPM Ecpose, sebagai Dewan Etik Nasional (DEN) dalam periode kepengurusan 2012-2014.

Dalam prolog setelah terpilih, Teguh dan Yasin meminta bantuan dari LPM untuk turut serta bekerja bersama demi PPMI DK Jember minimal satu periode ke depan. Terlebih PPMI DK Jember harus sering melakukan kunjungan ke LPM, untuk memberikan pemahaman lebih dalam tentang fungsi PPMI.

Selain itu ketika ditemui di Warung Buleck, Selasa siang (27/6), Teguh berharap kepengurusan PPMI DK Jember ke depan, harus berjalan sistematis dan pola stamina kerja para pengurus berjalan stabil dan berkesinambungan. “Arah pergerakan PPMI Kota Jember harus jelas dan terlaksananya fungsi sesuai harapan.” [Diekey]

Read Post | komentar
*

Canda dan Tawa di Inkarnasi DKK

17 June 2012

Minggu malam (17/06), halaman kompleks Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Sastra Universitas Jember diramaikan oleh acara Inkarnasi Dewan Kesenian Kampus (DKK). Inkarnasi yang diisi dengan beberapa hiburan itu adalah acara Dies Natalis DKK yang ke 18 pada tanggal 18 juni. Beberapa bidang dari DKK ditampilkan dalam acara Inkarnasi itu, antara lain; tari, karya sastra dan musik.


Wiki Zahra, ketua panitia, mengungkapkan bahwa acara itu dikonsep sederhana dan hanya mengundang UKM Fakultas Sastra saja. Selain memperingati hari ulang tahun DKK, acara Inkarnasi itu juga sebagai ajang temu kangen dengan alumni. “Acara ini sekaligus reuni, mempertemukan para alumni dengan anggota baru DKK,” Ungkap Wiki. Wiki juga berharap semoga kedepannya DKK semakin produktif dalam berkarya.


Acara yang ditutup dengan potong tumpeng oleh ketua umum DKK periode 2011-2012, Taufik bersama Mas Gatot, alumni sekaligus pendiri DKK tahun 1994, itu berjalan dengan lancar. Canda dan tawa memenuhi acara itu juga beberapa ucapan selamat ulang tahun dan doa semoga DKK semakin Berjaya kedepannya yang disampaikan oleh UKM-UKM lain. [Sadam]
Read Post | komentar
*

Konser Amal Untuk Cinta yang Universal

22 March 2012

Rabu malam (21/3), Band Tamasya menggelar konser amal di Kedai Gubug. Aksi solidaritas tersebut digelar untuk mendukung pendidikan di Manusela, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Para penonton yang hadir lebih dari seratus orang dari berbagai kalangan.

Dalam kegiatan tersebut, Zabriansyah Hakim, yang kerab dipanggil Mas Bro mengatakan, ada sebuah Sekolah yang sangat minim fasilitas yaitu, Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (SD YPPK) Manusela. Masih ada para murid yang menulis hanya dengan isi pensil dan bolpoin tanpa body. Manusela sendiri adalah daerah ang terisolir dari dunia luar. Maka dari itu Tamasya berniat mengadakan konser musik kecil-kecilan sambil mengumpulkan buku-buku bekas yang masih layak untuk di baca. 

Dengan Tamasya, Mas Bro sebagai salah satu inisiator kegiatan amal ini menyajikan lagu tentang cinta, persahabatan, dan alam. “Ini adalah sebuah lagu untuk cinta yang universal,” kata Mas Bro sebelum menyanyikan lagunya. Selain Tamasya, ternyata teman-teman dari berbagai kalangan yang hadir dalam acara malam itu tidak tinggal diam. Mereka turut menyumbangkan buku, uang, bahkan mengisi acara dengan bernyanyi. Selepas itu terdapat pula penampilan kolaborasi musik yang unik, segar dan menghibur antaraTamasya dengan beberapa teman yang hadir.

Lewat panita, buku-buku dan sumbangan uang dari kegiatan tersebut rencananya akan dikirim ke Manusela. Tentunya buku-buku tersebut pada nantinya akan mengisi rak perpustakaan SD YPPK Manusela, sebagai media bagi teman-teman kecil di Manusela untuk melihat dunia luar. Selain itu, Mas Bro mengatakan jika aliran sumbangan bagi Manusela tidak hanya berhenti pada malam ini. Setelah malam ini panitia masih bisa menampung dan menerima sumbangan berupa buku, alat tulis, uang, dan barang yang sekiranya dibutuhkan bagi pendidikan anak-anak Sekolah Dasar.[]
Read Post | komentar
*

Pementasan Kisah Cinta Ujang

21 March 2012

DieKey Lalijiwo/Ideas



Selasa (30/3) malam,  setelah diramaikan oleh dua pentas teater sebelumnya, Teater Tiang kembali meramaikan Gedung PKM-Unej (Pusat Kegiatan Mahasiswa) dengan pentas teater “Aduh Ujang” yang disutradarai oleh Eko Benk. 

Dalam pementasan yang diperankan oleh Yayan, Eko, Prima, Singgih, Nucki, dan Devi ini, bercerita tentang kisah cinta segitiga yang berujung pada tindakan saling fitnah. Perasaan saling mencintai antara Ujang dengan Euis mendapat rintangan dari kedua orang tua Ujang. Hal tersebut terjadi karena orang tua Ujang yang memaksa anaknya agar menikah dengan Emi. Di sisi lain, orang tua Ujang sedang terjebak hutang dengan ayah Emi. 

Persaingan yang tidak sehat ternyata dilakukan oleh ayah Emi, Juragan Broto. Karena ingin membahagiakan anak perempuannya, Brotoi tega memfitnah ayah Euis telah mencuri emas yang mengakibatkan masuk penjara. Hingga pada akhirnya ayah Euis membongkar semua kejahatan Broto pada keluarga Ujang.

Dalam pementasan kisah yang happy ending ini, penonton sempat dikagetkan dengan penataan artistik yang dilakukan secara live di panggung. Mereka menata berbagai macam properti hingga menjelma latar pematang sawah dengan cepat. []
Read Post | komentar
*

Teater Tiang Pentaskan Tari Kebahagiaan

20 March 2012



DieKey Lalijiwo/Ideas


Selasa malam (20/3), Gedung PKM-Unej (Pusat Kegiatan Mahasiswa) diramaikan oleh puluhan penonton yang sedang menyaksikan pementasan Teater Tiang. Mereka memainkan pentas teater “Tari Kebahagiaan” yang merupakan naskah karya dari Wahyu Kimura. 

Dalam pementasan yang disutradarai oleh Ita Ayu Mandasari tersebut, menceritakan tentang lima kawan lama yang bertemu kembali dengan nasib yang berbeda dengan masa lalu. 

Kelima wanita itu Winda P. (Kartini), Riska L. (Hena), Lidya (Marni), Lucy (Vion), dan Ita (Susana). Masing-masing dari mereka mempunyai beragam masalah pelik, namun mereka lebih memilih menyelesaikan masalah itu dengan berupaya membohongi diri sendiri sambil menari.[]
Read Post | komentar
*

Pemikiran Persma Harus Independent

03 March 2012






Sabtu malam (3/3), Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota Jember (PPMI DK-Jember) mengadakan diskusi di Kedai Gubug. Ketika membuka diskusi, Hendro, Litbang LPME Ecpose,  mengatakan jika diskusi kali ini adalah upaya untuk menanggapi keinginan dari LPM Manifest. Akan tetapi sayang sekali karena LPM Manifest terbentur dengan agenda lain, maka tidak bisa hadir. Selain itu, Hendro mengantar pembahasan diskusi dengan pokok pembicaraan seputar Persma. Hendro mencoba membuka pembicaraan dengan satu pertanyaan, apakah Persma telah memberikan sumbangan berupa perubahan dalam realitas?

Kemudian Rizki Akbari, Sekjen DK-Jember, memberikan tanggapan. Rizki mengawali pembicaraan dengan merunut kembali bagaimana peranan Persma dalam tiap zaman. Hingga merujuk pada Persma kekinian yang telah kehilangan konsentrasi pengawalan isu karena tidak ditemukan musuh bersama. 

Edo, Pemimpin Umum LPME Ecpose, turut menyumbangkan pemikiran mengenai perjalanan pengawalan isu Persma. Menurutnya, Persma dan berbagai aktivitas Organisasi Mahasiswa (OM) pada awalnya mempunyai hubungan yang baik dengan Angkatan Darat (AD). Akan tetapi berbalik arah dan saling berperang ketika masa beranjak pada periode Soeharto. Sehingga pengekangan terhadap kehidupan aktivitas OM mulai bermunculan misalnya dalam bentuk NKK/BKK. Hal ini terjadi karena aktivitas OM yang telah diklaim membahayakan keamanan negara. 

Jika ditinjau kembali Edo berujar, Persma lebih terfokus untuk mengawal kebijakan daerah atau yang biasa disebut dengan jurnalisme etnografi. Di samping itu, Edo juga mengatakan jika independensi Persma kekinian terletak pada pemikiran. Walaupun untuk tetap hidup, Persma kekinian lebih memilih bekerjasama dengan sponsor. Namun hubungan kerjasama tersebut harusnya tidak mempengaruhi kerja redaksi.

Di sisi lain, Diekey, Litbang LPMS Ideas, menyambung topik berkelanjutan yang semenjak tadi berhenti di Edo. Menurut Diekey Persma ataupun aktivitas OM manapun, mempunyai relasi yang kuat dan saling menguntungkan dengan militer di era Soekarno. Entahlah mengapa sebabnya ketika memasuki era Soeharto, Mahasiswa menjadi bermusuhan bukan hanya dengan militer, para sejarahwan pun tak luput menjadi objek yang harus dikritisi bagi mahasiswa. 

Pada era itu pula, sebenarnya aktivitas OM tidak pernah terjalin menjadi satu kesatuan dalam sebuah tubuh organiasi. Malah yang terjadi ialah muncul semakin banyak nama dan bendera sebagai tanda kehadiran banyak OM yang baru. Jika kekuatan militer untuk memukul aktivitas OM berupa NKK/BKK. OM juga berhasil merealisasikan ‘militer back to barak’

Akan tetapi serupa dengan apa yang dikatakan oleh Rizki, Diekey mengatakan jika terdapat split atau jarak antara aktivitas OM era Soeharto dengan pada era kekinian. Hal itu terjadi karena setelah Soeharto runtuh banyak sekali anggota dari organiasi mahasiswa yang terjun pada politik praktis. Ujung-ujungnya OM kekinian ternyata mengkritisi kakak-kakak organisasinya. 

Kemudian sembari membenarkan pendapat Edo,  Diekey mengatakan memang ada perubahan arah isu yang dikawal oleh OM. Hal tersebut terjadi ketika terdapat otonomi daerah. Sehingga kebijakan tidak diputuskan langsung oleh pusat. Maka dari itu isu yang sering diangkat OM kekinian lebih pada mengulas apa yang terjadi pada tiap daerahnya. 

Masih membenarkan apa yang dikatakan oleh Edo, Diekey mengungkapkan jika sebesar apapun Persma menjalin hubungan dengan pihak sponsor. Harusnya pihak sponsor tidak diperkenankan mengorak-arik politik redaksi Persma. Selain itu, tidak ada itu apa yang dinamakan sebagai Cover Both Side. Dalam artian tidak ada berita yang seimbang. Misalnya ketika terdapat para petani yang melakukan aksi protes terhadap DPRD. Narasumber bagi berita seimbang adalah para petani dan anggota DPR. Akan tetapi tetap saja terdapat ketimpangan wacana yang mengakibatkan wacana berat sebelah. Maka dari itu benar seperti apa yang dikatakan oleh Edo, independensi Persma terletak pada pemikiran yang bergerak dalam politik redaksi. Oleh sebab itu, Persma harus memiliki ideologi untuk memilih jika orang-orang bawah yang harusnya menjadi pokok pembelaan.

Sedangkan Arum, Pemimpin Umum LPM Explant, melanjutkan pembahasan mengenai isu apa yang sering menjadi fokus pembahasan mahasiswa kekinian. Terlebih bagaiamana cara mengawal isu itu sendiri. Arum mencoba mengawali dari wacana umum yang terdapat dalam tubuh LPM Explant, latar belakang Politeknik membuat Explant berusaha mencari jati diri atau sudut pandang tertentu dalam menguliti sebuah isu. Selama ini Explant mencoba menganalisa isu berbekal ilmu akademik yang diperoleh oleh anggotanya. Misalnya menganalisa kebijakan daerah dari sudut pandang dampak agraris.

Rizki turut angkat bicara terkait topik forum mengenai pengawalan isu oleh Persma kekinian. Menurut Rizki, latar belakang disiplin ilmu akademik seharusnya membuat Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) lebih bebas mengupas isu. Selain itu dengan cara semacam ini, akan membuat LPM lebih kuat dalam membawakan wacana. Misalnya saja LPME Ecpose pernah mengangkat isu terkait permasalahan agraris, akan tetapi sudut pandang yang dipakai ialah apa sebab dan akibat dari sisi perekonomian.

Dalam forum diskusi yang dihadiri oleh 13 orang dari empat LPM tersebut, LPM Explant, LPMM Alpha, LPMS Ideas, LPME Ecpose. Seakan terjadi persamaan pemahaman jika hakekat tentang apa itu Persma memiliki berbagai makna yang berbeda bagi tiap orang. Hal ini seolah terdapat ruang bebas bagi tiap LPM untuk menafsirkan tanpa kekangan. 

Di luar hujan berkombinasi dengan angin tiba-tiba rontok ke bawah. Forum diskusi tersebut diakhiri sembari melanjutkan obrolan sederhana seputar kegiatan masing-masing LPM. Lebih dari separuh peserta forum yang masih bertahan.[]
Read Post | komentar
*

Launching Pengurus Baru LPM-Mitra UIJ

21 February 2012

Lalijiwo/Ideas
   



   Pasca terpilihnya Heru Widodo, sebagai Pemimpin Umum  (PU) Lembaga Pers Mahasiswa Mitra (LPM Mitra). Sabtu Malam (18/2/12), bertempat di Auditorium Universitas Islam Jember (UIJ), LPM Mitra menggelar Lounching Pengurus dengan masa kerja pada periode 2012/2013. Kegiatan dengan tema, ’Akselerasi Kebersamaan Dalam Berkarya’  tersebut dihadiri oleh belasan peserta mahasiswa UIJ dan LPM Jember.

   Rizky Akbari S, Sekjen Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota Jember (PPMI DK-Jember), dalam sambutannya mencoba membangkitkan semangat Pers Mahasiswa (Persma) sebagai agen penyadaran. Selain itu Persma juga bertanggung jawab pada kaum yang lemah untuk mengawasi ketidakadilan di sekitarnya.

   Wahyu Eko Prasetyo, mantan pengurus Mitra mengatakan, kepengurusan tahun ini Mitra diisi dengan para pengurus yang masih muda. Harapan terbesar adalah semangat mereka masih fresh dan mampu fokus pada kerja jurnalistik Mitra. [lalijiwo/Ideas]
Read Post | komentar
*

Persma Tempo Dulu Dengan Sekarang

30 December 2011



Sebuah pencarian identitas persma kekinian.
Perbandingannya dengan pers mahasiswa tempo dulu.

Terlihat rona wajah asing, beberapa juga baru saling kenal. Mereka berkumpul dalam satu ruangan yang sedikit mewah dari sebelumnya, rumah baca atau yang lebih akrab disebut Tikungan. Di tempat itulah, jum’at (10/12), diadakan diskusi bersama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Jember. Topik Pembicaran dalam diskusi tersebut seputar, ‘seperti apa media Pers Mahasiswa (Persma) sekarang’. 

Setelah Term Of Refrence (TOR) diskusi dibagikan, suasana diruang yang terbilang cukup lebar tersebut mendadak hening, terlihat mulai membaca pengantar diskusi. Tidak lama kemudian, diskusi dibuka  oleh Sekertaris jendral Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) kota jember, Riski Akbari S. “PPMI merupakan tempat berkumpulnya wajah-wajah LPM sejember, dan nama ketuanya Sekjend,” Ujar Riski.  

Dalam diskusi, hadir dua Teman bicara untuk berbagi pengalaman. Pertama dari Lembaga Pers Mahasiswa Ekonomi (LPME) Ecpose, Nody Arizona. Ia pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) selama dua periode. Selanjutnya dari UKPKM Tegal Boto (TB), Didik Saputra, Sekarang menjabat sebagai pemimpin umum (PU).

Persma Tempo dulu.
Persma terbentuk sebagai media alternatif ketika rezim orde baru berkuasa. Ini terjadi saat Soeharto membungkam dan membekukan media umum yang terbilang kritis terhadap pemerintah.  Mahasiswa yang merupakan ras intelektual, menuntut hati nurani mereka untuk bergerak ‘bersama’ dari beragam latar belakang organisasi ekstra maupun intra kampus. 

Suara mereka satu, walaupun latar belakang ideologi mereka berbeda. Dengan demikian, Persma saat itu terbentuk dalam ideologi satu untuk musuh bersama. Terbukti dengan banyaknya media yang dibredel kala itu, salah satunya seperti pernah terjadi dengan SAS yang merupakan lembaga Persma dari sastra dan akhirnya berubah nama menjadi IDEAS. 

Semangat mereka jelas sangat terasa, sampai puncaknya tahun 1998. Mahasiswa menjadi motor penggerak reformasi dengan runtuhnya rezim Soeharto. Akhirnya  media umum ‘meluap’ setelah  mendapat kebebasan untuk berbicara kritis diranah politik. Namun, bagaimana dengan perr mahasiswa kekinian?, Dengan segenap ketegasannya, Riski  memulai pembicaraan dengan menjelaskan  segurat  sejarah persma tersebut. 

Kemudian Riski mencoba memancing pendengar diskusi yang dihadiri oleh beberapa LPM se-jember tersebut. Ia membandingkan persma tempo dulu dengan sekarang , “apakah persma lupa dengan sejarahnya? Kok terbitnya satu tahun sekali,” ujarnya lalu disambut dengan suasana  penuh keheningan. 

Sejarah singkat beberapa LPM dengan era kekinian
Setelah dirasa usai menjelaskan segurat sejarah persma, Riski memberi kesempatan kepada nody untuk menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana perkembangan media persma. Pemred berambut ikal  tersebut mencoba menceritakan tantang media yang selama ini lebih dekat dengannya yaitu produk Ecpose sendiri. 

Persma memang selalu bergerak melawan, melindungi dan lebih memihak kebenaran. Dan semua LPM memiliki sejarah tersendiri. Kalaupun semangat mereka sudah luntur, apakah karena sudah lupa dengan sejarah tempo dulu?  Zamannya memang sudah berbeda. Lantas  seperti apa sejatinya media Persma sekarang? Menjadi media alternatif atau hanya media kampus sebagai ruang pembelajaran?, ” tegas Nody. Setelah beberapa saat, terlihat mimik muka teman-teman LPM tampak bisu.

Akhinya di Ecpose sendiri menciptakan produk semi jurnal ‘buldock’ untuk bisa menampung isu kekinian dan penggarapannya lebih mudah. ”Karena tidak memungkin kita terlalu lama menggodok isu dalam skala kecil terlalu lama,” Imbuh nody sambil menutup perbincangannya. 

Dialog dalam bentuk Tanya jawab belum dibuka. Selanjutnya pemaparan dari PU Tegal  Boto (TB), Didik. Dengan terperinci ia menjelaskan sejarah  singkat TB yang merupakan LPM dalam skala Universitas Jember (UJ). Tahun 1993, TB lahir dari rahim temen-temen LPM diseti`p fakultas UJ. antara lain dari IDEAS, Ecpose dan masih banyak yang lain. Dalam tubuh TB, terdapat dualisme latar belakang organisasi yang berbeda. Antara delegasi pengurus dari organisasi intra (LPM red.) dan organisasi Ekstra kampus. Medianya pun berbeda “Untuk ekstra nama medianya Tawang Alun dan TB tetap Tegal Boto.”  Ujar Didik.

Pengurus TB diambil  dari delegasi setiap LPM, sehingga sudah membekali ilmu kejurnalistikan. Dari majalahnya tahun 1997, tag line media TB di wilayah politis yaitu ‘Amanat nurani mahasiswa’ saat punya musuh bersama yaitu Suharto.  Kemudian Tahun 1998 setalah rezim runtuh dan tidak memiliki musuh bersama tag linenya berubah  ‘Menuju tradisi kerakyatan’. 

Banyak terjadi konflik idiologis setelah  berbagai Organisasi mahasiswa tidak memiliki musuh bersama dengan runtuhnya rezim Soeharto tahun 1998.  Akhirnya pada tahun 1999 ketika rezim Orba runtuh, banyak masalah yang dialami TB. Muncul persaingan untuk saling menjatuhkan yang walaupun berada dalam satu tubuh antara golongan ekstra dan intra. “kadang waktu temen-temen dari intra nulis, diam-diam mereka hapus. Begitu juga sebaliknya,” Ujar didik dengan sedikit mengenang masa itu. Namun  akhirnya disepakati untuk menghapus organ ekstra di TB Pada kongres tahun 2000.

Tahun 2001 kembali berubah ‘Menuju pencerahan masyarakat’ dengan menyesuaikan pada jiwa zaman. Menggunakan pisau analisis filsafat dengan menghilangkan metode penulisan jurnalisme, seperti reportase. “Namun kita juga membuat produk untuk ke hal reportase, ada TB Post yang Isinya berita,” Imbuhnya .

Pembicaraan berlanjut dengan saling tukar pendapat antar temen-temen LPM. Beberapa diantaranya juga bertanya mengenai permasalahan yang sedang dialami lembaga. Mulai dari permasalahan paling rumit hingga yang paling mendasar. Seperti yang dialami Explant, LPM dari Politeknik Negri Jember (Poltek). “Kita pernah dipanggil Dekanat waktu mengangkat isu yang terbilang sensitif.” Ujar salah satu awak Explant.[Uliel Petrix/Ideas]

Read Post | komentar

Menyiasati Budaya Popular

Oleh: Ulil Petrix


“Saya pernah mendapat informasi bahwa
ada anak yang sedang mesum di warnet,”
Ujar Ikhwan Setiawan.

Rabu (14/12) Ormawa (Organisasi Mahasiswa)  Fakultas Sastra Universitas Jember(FS-UJ) mengadakan seminar budaya. Kegiatan yang bertempat di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) tersebut bertema, ‘Indonesia Dalam Kepungan Budaya Populer’. Pembicara dalam seminar, Tiga dosen FS-UJ, Prof. Ayu Sutarto. M.A, Drs. Moch. Ilham. M.Si, dan Ikhwan Setiawan. S.S.M.A.

Kegiatan ini berawal dari munculnya dana hibah dari rektorat sebesar lima juta rupiah, untuk kegiatan organisasi Mahasiswa Fakultas Sastra, dalam bentuk apapun. Kemudian Ormawa FS-UJ berembug bersama guna menginisiasi seminar budaya.

Semua perwakilan dari Ormawa juga turut berpartisipasi menyumbangkan kreatifitas mereka. Ada pertunjukan tari dari Dewan Kesenian Kampus (DKK), sebelum seminar dimulai. Selain itu  terdapat ‘pembawa acara’ yang dibentuk  dalam dua bahasa (Inggris- Indonesia), diperankan oleh delegasi Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (Imasind) dan English Department Students Association (EDSA). Kemudian untuk doa dibawakan oleh delegasi dari Lembaga Kerohanian Fakultas Sastra (Lekfas). Sedangkan sesi diskusi diserahkan kepada delegasi Lembaga Pers Mahasiswa Sastra (LPMS).

 Tema dalam seminar sangat menarik, Berkaitan langsung dengan realitas anak muda yang kental dengan budaya Pop. Tidak heran jika peserta yang hadir dalam seminar melebihi kuota perkiraan panitia, ‘dua ratus’. Akhirnya beberapa peserta ada yang berdiri karena tidak mendapat tempat duduk.

Seulas pembahasan dalam seminar
Bukan hal yang asing lagi jika kita melihat anak usia dini sudah memegang telepon genggam. Barangkali sudah zamannya. Namun yang mejadi permasalahan ketika ‘produk’ itu hanya digunakan sebagai pemuas kebutuhan pada gaya hiup. Jika ditarik akar permasalahan yang mempengaruhi, tidak terlepas dari peranan pengaruh media, lingkungan mereka tinggal dan industri yang menyediakan itu semua. Ini di luar perhatian orang tua untuk selalu mengawasi. Karena mau tidak mau mereka harus mengalami proses transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa di dunia luar.

 Tidak menutup kemungkinan kita juga mengalami hal yang demikian. Ketika kita lebih nyaman melihat sinetron, gossip atau boy band di banding menonton acara yang mengandung unsur pendidikan. Hingga terjebak pada budaya imitasi. Pelarian untuk memenuhi keinginan, pola hidup ‘tren’ tersebut, telah disediakan oleh pasar. Menjadi sebuah ironi jika generasi bangsa lebih bersifat konsumtif. 

Menurut Drs. Moch. Ilham, kita tidak perlu takut menghadapi budaya Pop, apalagi mahasiswa sebagai ras intelektual layaknya menjadi contoh. Selain itu, permasalahan tersebut juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Karena kita juga mengikuti perkembangan zaman. Ia mengutip teori dari Adorno, bahwa dalam memandang budaya ‘Pop’ ada nilai guna primer dan nilai guna skunder. Misalnya, jika membeli telepon genggam yang digunakan sebagai kebutuhan komunikasi, Itu masuk dalam kebutuhan primer, Kemudian  yang hanya digunakan sebagai kebutuhan  tren (Skunder). 

Suasana dalam Forum semakin hening, terlihat beberapa dari peserta seperti sedang merefleksi diri. Namun tidak lama kemudian berubah santai.  ”Saya tidak bisa bersaing dengan Pak Hadiri (Pembantu Dekan III FS-UJ), yang setiap bulan Handphone-nya ganti hahaha,” Ujar pak ilham dengan penuh gurau untuk mencairkan suasana. 

Terdapat dua kategori kebudayaan yang merupakan warisan nenek moyang maupun perubahan kekinian. Yang pertama merupakan budaya High Culture (budaya Adiluhung) yang memiliki makna berarti bagi masyarakat dan sungguh indah. Kemudian Low Culture yang merupakan budaya POP sendiri. menurut Ikhwan Setiawan. S.S.M.A, Budaya Pop lebih menjamin kebebasan serta lebih ke hal yang senang-senang. “Saya pernah mendapat informasi bahwa ada anak yang sedang mesum di warnet.” Ujarnya.

 Di era modern yang serba instan, sebaiknya  biasa memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai media pembelajaran. Seperti yang diungkapkan Ikhwan Setiawan. S.S.M.A, “Pemanfaatan budaya Pop sebagai media transformasi ke generasi untuk melestarikan budaya lokal adiluhung, misalnya Pelestarian lagu-lagu daerah Banyuwangi yang sudah bisa memanfaatkan teknologi,” Imbuhnya. 

Banyak faktor yang akhrinya menggerus ingatan kolektif, tentang budaya warisan adiluhung yang indah itu. Ketika generasi muda tidak menerima transformasi kebudayaan untuk tetap melestarikan. Malah asik dengan budaya Pop kekinian. Ketika internet sudah menyediakan banyak hal tentang pengetahuan tanpa harus bersusah payah untuk mencari informasi. Namun juga semakin mudahnya dimanfaatkan sebagai sarana kebutuhan biologis untuk mengakses film ‘Porno’ misalnya.”Terhitung ribuan rakyat Indonesia mengakses film porno” ungkap Prof. Ayu Sutarto. M.A. [Ulil/Sadam]
Read Post | komentar
*

Jalin Persaudaraan Lewat Dekan Cup

16 December 2011

Oleh: Diekey Lalijiwo

Serangkaian ajang lomba mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Jember (FSUJ), Dekan Cup, digelar oleh Pusat Olah Raga Fakultas Sastra (Porsa), mulai tanggal 5 hingga 15 Desember 2011. Dalam Dekan Cup tahun ini, ada beberapa cabang olahraga yang diperlombakan, yaitu futsal dan basket. Masing-masing cabang olahraga tersebut diikuti oleh tim putra dan putri. 

Dalam malam penutupan, kamis (15/12), di lapangan Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), penyerahan piala pada pemenang dilakukan oleh Dekan FSUJ. Para pemenang ialah, dari kompetisi tim putra Futsal juara pertama tim Sastra Inggris (Sing), Juara kedua dari tim Sejarah (Sej). Sama halnya dengan Futsal putri, dimenangkan oleh tim Sing dan Sej sebagai juara dua. Sedangkan untuk pertandingan basket pria, juara pertama ialah tim Sastra Indonesia (Sind), peraih juara kedua dari tim Sing. Untuk Basket basket wanita, juara satu diraih oleh Sing, Juara dua Sind.

 Selain itu, ada acara menarik lainnya. Yaitu pertandingan basket persahabatan antara tim alumni FSUJ dengan tim FSUJ. “Kedua tim hasil seleksi dari senior Porsa,” Ujar Endi Setiawan, selaku panitia pelaksana. Kontes Three Point berhadiah kaos juga menjadi agenda menarik malam itu.

 Tujuan dan harapan diadakan kegiatan ini, agar terjalin hubungan persaudaraan yang erat antar civitas akademik FSUJ. Seperti yang diungkapkan Daud Wasista, Ketua Umum Porsa, “Tujuan utamanya untuk silaturahmi antar HMJ dan karyawan sastra. Selain itu Dekan Cup ini kan acara rutin tahunan Porsa, juga sudah dimasukan dalam agenda kerja Porsa.” [diekey/sadam]
Read Post | komentar
*

Kopi Darat Terbit (lagi)..

12 December 2011

    Kopi Darat, sebuah buletin dikelola oleh Rumah Kata Jember, dan kini dikelola oleh Kelompok Tikungan Indonesia (KTI), terbit lagi. Mereka berupaya kembali ber-angan, beropini, maupun memediasi pendapat publik. Tentu saja terkait dengan tema buletin, Edisi November Minggu I , yaitu Sikap Kesenian Taring Padi. 

   KTI merupakan kelompok pegiat seni dan budaya, suara mereka bisa anda dengarkan di RRI PRO 1- 95,4FM, setiap hari Jum’at. Dalam diskusi kecil di udara tersebut, tema besar yang mereka angkat masih seputar apresiasi seni dan budaya. Sedangkan Buletin Kopi Darat ini merupakan penerjemahan hasil diskusi di udara, yang kemudian mereka tuangkan dalam tulisan.
Read Post | komentar
*

Babebo Zine #1 Menetas

11 December 2011




    Ada yang diam-diam menjadi mimpi besar mereka. Sebuah kelompok kecil yang kebetulan lahir di Jember ini, berupaya melawan mainstrean seni. Main stream yang mana?

   Jika ditinjau dari beberapa karya mereka, memang bisa dipastikan bukan yang laku dipasaran. Mungkin yang dimaksud melawan, karya mereka bukan apa yang pasar inginkan. Terlebih mereka menganggap jika karya seni bukanlah komoditas yang lahir untuk di jual. Akan tetapi seni adalah kebebasan mengespresikan diri.

Dari mereka, telur yang mengantar pada yang bekas...
   Entah apa yang terlintas dalam pikiran masing-masing dari kami waktu itu. Tiba-tiba ada seorang teman ngajak ngopi di suatu tempat. Dan tanpa disadari kami telah membidani lahirnya sebuah konsep media cetak yang nantinya akan menjadi penampung timbunan imajinasi. 

   Kamis 17 Juni 2011 Babebo lahir diantarkan oleh senyuman dan tempo detak jantung yang tak teratur .Namun secara tiba-tiba pula detak jantung kami berhenti, untuk sekedar bertrasmigrasi
ke alam imajinasi. Mungkin karena ketika itu kami ingin berkarya dalam suatu tema yang sama. Pada akhirnya kami ingin berpergian ke alam itu dengan membawa oleh-oleh imajinasi seputar fenomena sosial. lantas bagaimana kami bisa mengkombinasikan antara fakta dan imajinasi. bukannya itu dua WC Umum yang berbeda. Mungkin diawali dengan membaca realita kemudian menuangkan dalam media penerjemah imajinasi.

  Tapi tak semudah itu. ketika kami mencoba untuk membaca realita sosial, saat itu pula timbul ke-absurd-tan jika kami telah terinfeksi virus disleksia. sudahlah, kemampuan kami hanya sebatas fasilitas yang tersedia dalam imajinasi itu sendiri. maka dari itu kami butuh beribu kritik anda dalam bentuk imajinasi pula. 

   Jika nantinya anda bosan menunggu kapan Babebo akan terbit lagi, maka sediakanlah waktu senggang untuk berimajinasi seliar mungkin. Kemudian kirim imajinasi anda ke dapur redaksi imajiner kami.Kami akan berusaha tetap ada jika anda tak pernah berhenti untuk berkarya.


Link download *.pdf klik ini
Read Post | komentar
*

MAHASISWA : Dambakan Situasi Kondusif Perkuliahan

15 October 2011

Memang tidak asing lagi keberadaan pengemis dan pemulung yang memanfaatkan Fakultas Sastra Universitas Jember sebagai ladang untuk menggali nafkah. Kampus yang umumnya hanya tempat berinteraksi kalangan civitas akademik ternyata dimanfaatkan pengemis dan pemulung sebagai lintasan untuk melengkapi kebutuhan ekonominya.
Kegiatan mencangkok ilmu menjadi tak kondusif dengan eksistensi mereka. Kawasan pendidikan idealnya memiliki atsmosfir yang kondusif, dalam artian zona edukasi tersebut mendukung dan memaksimalkan proses belajar mengajar. Apakah kegiatan semacam ini dipersilahkan saja oleh pihak Dekanat.
Krisis global terus berlangsung, tak seorang dan satupun alat yang mampu meramalkan kapan krisis ini akan berakhir. Semua orang berlarian untuk menyelamatkan diri, bahkan menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasratnya dari desakan ekonomi yang semakin meruncing. Tak heran jika kampus  tidak luput dari terkaman kegiatan para pengemis dan pemulung. Siapa yang tak tergiur dengan aliran rupiah dari kegiatan praktis.
Sikap diam mahasiswa yang cenderung mengacuhkan kehadiran pengemis dan pemulung memang tidak semestinya dimaknai bahwa mereka tidak terusik. Ternyata berbagai unsur lapisan mahasiswa itu memendam harapan besar agar pihak yang berwenang mempertegas komitmennya untuk menambal tumpukan lubang keresahan mereka.

Pengemis masuk kelas..
Ironis sekali ketika kelas yang biasanya hanya berisi mahasiswa dan dosen saja, tiba-tiba pengemis nimbrung dalam proses belajar mengajar. Seperti keresahan yang dialami Hadi mantan pengurus PORSA lewat ungkapanya, ”tidak sedikit dari mereka meminta sedekah saat proses belajar mengajar, efeknya dapat memecah konsentrasi”.
Ternyata kehadiran pengemis dalam kelas tidak seperti mahasiswa yang ketika datang kemudian menempati bangku kosong untuk menikmati proses perkuliahan. Lain halnya dengan mahasiswa, pengemis itu tidak tertarik untuk ikut campur mengasah keintelektualanya lewat materi perkuliahan. Mereka hadir sejenak dalam kelas tentunya hanya untuk menggoda kita agar berbelas kasih berbagi sedikit uang receh.
 Dicky wahyudi, selasa (16/2), satuan keamanan FS UJ yang bertugas pada shift sore itu mengatakan “Saya tidak setuju soal adanya pengemis, kadang ada pengemis yang sering masuk ke dalam kelas, terus kadang waktu anak-anak itu lagi belajar lalu ada pengemis yang menjulurkan tangan, itu kan paling tidak membuat mahasiswa atau mahasiswi risih untuk nongkrong di kampus” ia berupaya mengangkat pendapat dengan keberpihakanya pada sektor mahasiswa.
Banyaknya pengemis yang dibiarkan menguap tersebut ternyata menjadi fenomena tersendiri. Hal ini berimplikasi pada terganggunya aktivitas civitas akademika. Seperti yang dikatakan Yunita, Mahasiswi Jurusan Sastra Inggris “Terlalu seringnya mereka dan terlalu banyaknya mereka (pengemis .red) , sehingga mereka selalu mengganggu aktivitas”. Hal serupa juga dikatakan oleh Asnadi, mahasiswa jurusan sastra inggris, “Mengganggu kegiatan belajar mengajar, dan kegiatan mahasiswa lainya”.
Situasi ini menganalogikan pengemis sebagai dinamit, kita takkan tau kapan dinamit itu meledak dan menghamburkan berbagai macam bentuk keresahan. Seperti halnya pemanfaatan FSUJ sebagai rute para pengemis. Konstruksi moral rasa kasihan yang telah terbangun akan segera hancur berkeping-keping setelah ancaman tentang hal yang menyangkut area kriminal itu datang. Seperti apa yang diungkapkan oleh Viktor mahasiswa sejarah, “Saya terganggu dengan potensi kriminal yang dibawa pengemis itu”.
Menurut Tri Susilo Pramono Mantan Presiden BEM FS UJ Periode 2009-2010, Rabu (21/4), “Walaupun mahasiswa lagi nyantai, masalah ini tetap mengganggu. Alangkah lebih baik bila situasi kampus dinetralisir dari kegiatan itu” Ungkapnya saat ditemui tim PaRTIKELIR didepan ruang Akademik.

Sampah itu mengundang pemulung…
Selain pengemis, tak heran area Fakultas Sastra yang berpintu lebar mengundang kehadiran pemulung. Sampah daur ulang yang berserakan menghasilkan suatu lapangan pekerjaan bagi para pemulung.
Tempat sampah yang terletak di sekitar sekretariat UKM mengundang mereka. Seperti dugaan besar  Muzaky, mahasiswa ilmu sejarah setelah helmnya hilang di parkiran depan sekretariat bersama yang menurutnya merupakan ulah dari para pemulung. Pasalnya pagi hari itu hanya mahasiswa sejarah 09’ yang melakukan prosesi perkuliahan.
 Pintu masuk dari empat penjuru mata angin dengan ramahnya mengucapkan selamat datang pada mereka. Berbagai macam bentuk kecemasan mulai dari merendahnya tingkat higienis sampai faktor kriminal melanda kalangan civitas akademik.
Titik jaga satuan keamanan fakultas hanya difokuskan pada area parkiran setelah itu setiap satu jam sekali keliling sastra. Hal ini juga menjadi salah satu dari beberapa pemicu hadirnya para pemulung.
Kesenjangan sosial itu memberi komplikasi rumit bagi aspek pendidikan dalam ruang lingkup Fakultas sastra. Mereka seakan menyempurnakan kehadiran jurang sosial di tengah geliat KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).  Tentunya kondisi ini tidak terlepas dari perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat yang mengalami perubahan dan peningkatan, seiring dengan berkembangnya budaya dan kebutuhan masyarakat. [DieKey]
Read Post | komentar
 
© Copyright Ideas Online 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all