Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts
*

Bukan Tuhan, tapi Bumi Dengan Manusianya

21 November 2011


Judul                       : Bumi Manusia
Pengarang             : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit                  : Lentera Nusantara
Editor                      : Joesoef Isak
Cetakan                  : ke-9, tahun 2002

            Tanpa mengetahui sejarah, orang tak akan dapat memproyeksikan masa depan. Salah seorang Maestro dunia sastra Indonesia yang smpai saat ini belum tergantikan, Pramoedya Ananta Toer telah menulis begitu banyak roman. Dan yang paling menggemparkan adalah Tetralogi Pulau Buru yang ditulisnya saat berada di penjara. Bumi manusia adalah seri pertama dari tetralogi Pulau Buru berlatar kolonialisme belanda pada akhir abad 18.

Cerita ini merupakan adaptasi dari kehidupan perintis pers Indonesia, Tirto Adhi Soerjo. Cocok dibaca bagi mereka yang tertarik pada sejarah Indonesia. Bukan hanya sebagai media hiburan namun sebagai referensi sejarah yang pada masa Orde Baru telah dibuat menjadi simpang siur. Namun buku ini tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah karena sifatnya yang subjektif. Buku ini juga berjenis roman bukan buku yang dibuat melalui penelitian ilmiah sebagaimana buku-buku lainnya.

Minke, tokoh utama dalam novel ini adalah seorang pelajar sekolah tinggi Belanda di Surabaya, HBS. Sebagai seorang anak bupati dari Jawa yang sejak kecil disekolahkan di sekolah Eropa dia sangat mengagumi ilmu pengetahuan Eropa sampai-sampai merasa jijik terhadap budayanya sendiri yang dianggapnya rendah. Pembagian kasta yang mewajibkan seseorang dengan kasta rendah menggelesot dihadapan para pembesar dari kasta golongan atas. Aturan kesopanan yang me-Maha kan para penguasa. Para petinggi yang menganggap dirinya setinggi langit di antara bangsanya sendiri namun menciut dihadapan bangsa lain sangat bertentangan dengan ilmu pengetahuan Eropa yang dia pelajari tentang kesetaraan antar individu yang di mulai dari metusnya revolusi prancis. Dia menyadari bahwa penduduk pribumi dianggap sangat rendah di mata Eropa meskipun mereka dari golongan kasta tinggi. Kebudayaan Jawa sendirilah yang menyebabkan keadaan ini.

Dia mencintai seorang gadis indo anak seorang Nyai, sebutan pada seorang Gundik simpanan orang Eropa di Jawa. Nyai Ontosoroh dijual oleh ayahnya demi mendapatkan pangkat yang lebih tinggi. Nyai telah bersentuhan dengan ilmu pengetahuan Eropa sejak masih berusia sangat muda, meskipun tidak melalui pendidikan formal, suaminya seorang Eropa mengajarinya Ilmu Pengetahuan Eropa. Pemikiran Minke yang mengagungkan Eropa mulai luntur setelah mengenal Nyai Ontosoroh yang mengagumkan, ibu kekasihnya. Semenjak itu dia mulai menyadari bahwa pribumi telah di injak-injak oleh Eropa.

Pada mulanya Minke ragu untuk menjalin hubungan dengan keluarga tersebut karena meskipun kaya raya menurut tatanan sosial masyarakat, derajad mereka sangat rendah. Sebuah ironi antara pandangan Jawa dan Ilmu pengetahuan Eropa menguasainya. Namun Minke terpakasa tinggal bersama Annelis karena dia jatuh sakit saat Minke berniat untuk meninggalkan mereka. Dari sanalah konflik dimulai, desas-desus menjalar, ditambahi dengan kematian  Herman Mellema ayah Annelis yang misterius nama baik minke mulai tercemar dan diapun diberhentikan dari HBS.

Mengetahui kematian ayahnya, anak sah Herman Mallema dengan mantan istrinya di Nederland berusaha untuk menguasai semua kekayaan dan perusahaan ayahnya yang sejak 20 tahun lalu dibesarkan oleh Nyai Ontosoroh. Bahkan Maurits Mallema berniat untuk mendapatkan hak asuh Annelis yang telah menikah dengan Minke karena dianggap belum cukup umur. Segala usaha telah dikerahkan, bahkan meskipun oleh Asisten Residen telah disewakan Ahli Hukum ternama kasus tetap dimenangkan oleh Maurits. [Njun]
Read Post | komentar

CONFUCIUS

Film Confucius adalah sebuah film drama yang menceritakan tentang sejarah Kong Qiu yang kita kenal sebagai pemimipin aliran Confucianisme. Kong Qiu “Confucius” yang juga dikenal sebagai Zhong Ni diperankan oleh Chow Yun Fat adalah seorang walikota Zhongdou dari kerajaan Lu di masa pemerintahan Ding.

Pada masa itu, kekuasan di kerajaan Lu diserahkan pada tiga klan aristokrat yang dikenal sebagai tiga kerajaan mulia yaitu Klan Jishi, Sushi, dan Mengshi. Confucius tinggal di sebuah desa kecil bersama istri, seorang putra dan seorang putri dan mereka hidup dengan harmonis.

Meskipun Confucius datang dari keturunan orang yang biasa-biasa saja, namun dia adalah orang yang berkepribadian sangat hebat, bijak, dan mempunyai prinsip yang kuat dalam kenegaraan. Disamping sebagai pembantu kerajaan, Confucius juga berprofesi sebagai guru, dan dia mempunyai murid yang banyak.

Pada masa pemerintahan itu, Confucius yang sudah menjabat sebagai walikota selama setahun, diberi kepercayaan oleh kaisar dari kerajaan Lu untuk diangkat menjadi Menteri Hukum yang sedang kosong karena menteri Ji Yiru baru saja meninggal. Oleh karena kinerja pada masa satu tahun kepemerintahannya di Zhongdou sangat maju dan sangat berhasil, maka dia diberi kepercayaan itu.

Namun, setelah dia diangkat menjadi menteri hukum, banyak sekali musuh politiknya yang ingin menggulingkanya dari jabatan itu karena kebijakan dan prinsip yang dimiliki Confucius dalam bernegara sangat berbeda dari mereka, musuh politiknya yang sangat menentangnya adalah dari keLuarga Ji.

Salah satu kebijakannya yang berbeda dari Ji Sunsi adalah tentang prinsip kemanusiaan yaitu dengan menghilangkan tradisi kuno yang mengorbankan makhluk hidup sebagai sebuah ritual, contohnya dalam film ini adalah confucius meminta pada raja untuk menghentikan ritual jahat yang mengorbankan makhluk hidup (beberapa budak) bersama Tuan mereka yang sudah meninggal dan confucius sangat tidak setuju dengan tradisi seperti itu karena melanggar prinsip kemanusiaan.

Sejak Kerajaan Lu mengangkat Confucius menjadi menteri, banyak kerajaan-kerajaan lain khawatir akan semakin bertambah kuatnya kekuatan kerajaan Lu dan akan mengancam kekuasaan mereka, salah satunya adalah kerajaan Qi. Akhirnya, Raja Qi merencanakan sesuatu untuk menyandera confucius dan penguasa Lu. Dan kemudian mendiskusikan bagaimana penguasa dan tiga keluarga bangsawan dapat tunduk pada Kerajaan Qi dengan membuat sebuah pertemuan untuk memberikan selamat dengan diangkatnya Confucius menjadi menteri.

Namun rencana mereka tidak berhasil karena Confucius tahu apa tujuan kerajaan Qi mengundang mereka, sehingga Confucius membuat sebuah strategi untuk jaga-jaga jika kerajaan Qi akan melakukan sesuatu terhadap mereka. Akhirnya Confucius benar terhadap apa yang akan dilakukan kerajaan Qi, sehingga dia dan Raja Lu lolos dari rencana penyanderaan yang akan dilakukan oleh Raja Qi.

Confucius berhasil membuat kerajaan semakin meningkat dalam beberapa bidang, pada tahun 498SM, Confucius diangkat menjadi menteri dalam negeri karena raja semakin percaya terhadap kecakapan confucius. Sehingga Confucius hanya fokus terhadap segala apa yang terjadi di dalam kekuasaan kerajaan, seperti pembangunan Wuzi untuk mencegah banjir dan lain-lain.

Selain itu, Confucius juga ingin memajukan kerajaan dengan meruntuhkan tembok-tembok penghalang tiga keluarga bangsawan kerajaan meskipun itu sangat berbahaya bagi dirinya, namun dia tetap melakukannya karena dia ingat pada perkataan almarhum gurunya Zichan: “ingatlah seumur hidup kalian, dahulukan kepentingan negara dari pada diri sendiri”. Dan kebijakannya untuk meruntuhkan tembok itupun disetujui oleh raja Lu.

Sebenarnya tujuan Confucius meruntuhkan tembok itu adalah untuk mencegah tiga keluarga bangsawan kerajaan ini untuk memamerkan kekuasaan mereka masing-masing dan mematahkan terjadinya separatisme diantara mereka. Setelah disetujui oleh menteri-menteri, maka penghacuran tembok itupun dilakukan. Namun saat penghancuran tembok itu dilakukan, salah satu pemberontak yang bernama Jenderal Gongshan (jendral kesetiaan Ji yiru) memanfaatkan itu untuk menyerbu Qufu , ibukota kerajaan Lu dan mengambil-alih kerajaan, membunuh Confucius dan melenyapkan tiga keluarga bangsawan kerajaan.

penghancuran tembok itu hampir berhasil, tiba-tiba saja Raja Lu menghentikan rencana itu karena Raja khawatir terhadap rencana penyerangan yang akan dilakukan oleh Li Chu, Raja kerajaan Qi. Li Chu sudah siap menyerang dan sudah berada di perbatasan dengan membawa 30.000 pasukan dan membentuk aliansi dengan kota Chengyi. Akhirnya raja Lu menghentikan penghancuran tembok-tembok itu dan memecat Confucius menjadi pejabat kerajaan.

Setelah mendapat patahan giok dari kerajaan yang menandakan hadiah perpisahan, pada tahun 497SM, Confucius meninggalkan kerajaan Lu dan mengasingkan diri dengan melakukan pengembaraan bersama murid-muridnya dari negara ke negara lain, dan sampailah dia di DiQiu, ibukota kerajaan Wei. Di kerajaan Wei, Confucius dimintai pendapat bagaimana dan apa yang harus dilakukan kerajaan agar rakyatnya makmur dan kerajaan aman. Karena dia tahu apa yang akan terjadi di kerajaan Wei, dia meniggalkan kerajaan itu dan melakukan perjalanan lagi ke kerajaan Song. Tidak berapa lama di kerajaan Song, dia diusir oleh pangeran huan untuk keluar dari kerajaan.

Pada tahun 484 SM, kerajaan Qi menyerang kerajaan Lu, sehingga perdana menteri Ji sangat menyesal terhadap rencana Confucius beberapa tahun lalu. Kemudian dia ingin Confucius kembali ke kerajaan Lu dan menyelesaikan masalah ini. Namun perdana menteri Ji malu pada Confucius setelah apa yang telah diperbuatnya beberapa tahun lalu. Sehingga dia memanggil murid kesayangannya Ran Qiu untuk menghadapi peperangan ini dan akhirnya berhasil.

Tak lama kemudian setelah peperangan berakhir, perdana menteri Ji mengirim beberapa orang untuk mencari Confucius karena Perdana Menteri Ji ingin meminta maaf padanya. Akhirnya Confucius bisa kembali dengan syarat dia tidak ingin disibukkan dengan politik dan hanya ingin mengajar. Dan akhirnya Confucius mengakhiri pengembaraannya dengan kembali ke tanah air tercintanya yaitu kerajaan Lu pada tahun 484 SM.\

Di sisa-sisa hidupnya di kerajaan Lu inilah Confucius mempunyai kesempatan untuk menulis lebih banyak buku. Dan di akhir cerita, Confucius meninggal pada tahun 479 SM di usia 79 tahun dan sebelum meninggal dia berpesan bahwa “jika dunia akan mengenalku, pasti melalui buku ini. Jika dunia akan menbenciku, pasti juga karena buku ini”.

Perlu diketahui bahwa, Confucius adalah membuat pendidikan ada untuk semua. Dan muridnya tersebar di seluruh dunia, dan hal ini membuat Confucius mendapatkan gelar “Orang bijak sepanjang masa”. Confucius dan ajaran-ajarannya mengkristal di banyak segi peradaban kuno Cina dan menjadi simbol untuk itu. Hal ini menjadi standar dalam politik, moralitas dan filsafat dean memiliki pengaruh mendalam dan abadi di Cina. Di masa kita, Confucius dikenal sebagai sarjana, pemikir besar (filosof), dan pendidik yang hebat. [Bara Uye]
Read Post | komentar
*

Revolusi Pengharapan (The Revolution of Hope)

15 October 2011

Judul : Revolusi Pengharapan (The Revolution of Hope)
Pengarang : Erich Fromm
Penerbit : Pelangi Cendekia
Tahun Penerbit : 2007
Peresensi : Sadam Husaen Mohammad


    Apa yang dimaksudkan menjadi manusia modern yang humanis? Mungkin  begitu kira-kira yang ingin disampaikan oleh Erich Fomm (EF) melalui buku Revolusi Pengharapan ini.  Melalui ilmu pengetahuan manusia begitu sukses menguasai alam. Kemudian semangat manusia untuk memaknai dirinya sendiri berpusat pada kebutuhan teknis dan materi akhirnya manusia kehilangan spiritualitas dan keyakinan, manusia seperti menemukan Tuhan yang baru yaitu “kalkulasi impersonal” atau semua yang dapat dikalkulasikan, diramalkan, dan difaktualisasikan sehingga mesin dijadikan sebagai berhala dan pada akhirnya menentukan pemikiran manusia.

    Mungkin sekarang kita sedang menghadapi  sebuah ancaman. Bukan ancaman yang remeh dan bukan juga komunisme ataupun fasisme melainkan masyarakat yang dimesinkan secara total untuk memproduksi dan mengkonsumsi. Manusia diberi makan dan hiburan secara pasif dan nyaris tidak punya perasaan, bahkan untuk mengungkapkan kesedihan dan kegembiraan pun sulit. Maka di sini EF menolak semua persepsi dan perspektif tentang pengharapan yang di setir oleh mesin dan kaum borjuis itu. Menurut EF pengharapan bukanlah hidup menghambur-hamburkan uang,serakah dan tak bermartabat tapi pengharapan adalah hidup yang disertai pengorbanan untuk mengupayakan kualitatif dan produktif sebuah kehidupan yang berkecukupan dan wajar agar dapat selamat di kehidupan.

    Manusia menjadi tokoh fiksi dalam sebuah novel yang tak pernah jelas judulnya. Novel yang penuh dusta. Dusta kata-kata, dusta gerak gerik mata, dan dusta ekpresi wajah. Manusia inginnya selalu tampil dengan kesibukannya sendiri tanpa sadar mereka tidak menghasilkan apa-apa atau bisa disebut pasif. Mereka ingin dipahami, dipelihara dan dipuji. EF tidak setuju semua itu disebut sebagai proses pengharapan, berharapan bukanlah kesibukan yang akan mendapat pujian atau penghormatan. Pengharapan itu bersumber dari kekokohan batin yang bersentuhan secara erat dengan visi kehidupan yang prospektif.

   Pada bab terakhir buku ini (BAB VI) EF menawarkan beberapa perubahan yang mendasar untuk menyelamatkan manusia dari modernisasi, antara lain perubahan pola produksi dan konsumsi sehingga aktivitas ekonomi menjadi sarana pemekaran dan perkembanagan manusia. Transformasi manusia yang sebelumya manusia hanya menjadi masyarakat yang pasif berubah menjadi masyarakat yang aktif, kritis dan bertanggung jawab. Dan suatu revolusi kultural yang didasari oleh gerakan humanisme radikal yang mencakup banyak ideologi yang berbeda dan kelompok-kelompok sosial. Dan semua itu untuk mendesain sebuah revolusi pengharapan yang bermuara pada humanisasi teknologi .

    Manusia modern yang meletakkan teknologi sebagai pelayan bagi cita-cita humanis itu yang diinginkan oleh EF, tetapi di buku ini EF kurang  jeli melihat bahwa masyarakat  seluruh dunia selain butuh demokrasi dan humanisasi mereka juga membutuhkan peran birokrasi dan teknokrasi walaupun disamping itu ada rasa suka dan tidak suka pada diri mereka. Apabila EF bisa meramu semua antara birokrasi, teknokrasi, humanisasi dan demokrasi menjadi satu mungkin kehidupan masyarakat modern yang lebih humanis akan bisa dinikmati.
Tetapi buku revolusi pengharapan ini sangat layak untuk dibaca, karena cita-cita yang diinginkan semua Negara berawal dari pengharapan dan itu dibedah di sini oleh EF agar kita mengerti bagaimana menjadi masyarakat modern yang semakin manusiawi.[]
Read Post | komentar
 
© Copyright Ideas Online 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all