Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts
*

Asmarandana dan Dua Penyair yang Berbeda

01 March 2012

Saya bukanlah seseorang yang pintar dalam berpuisi, apalagi untuk menafsirkan apa arti dari sebuah puisi. Tapi saya agak gelisah ketika Halim Bahris mentag saya dalam kirimannya di Facebook, dan isi dari kirimannya adalah sebuah puisi berjudul Asmarandana. 

Belum sempat untuk membuka blog Halim saya langsung teringat kepada seorang penyair yang tidak pernah membacakan puisinya, yaitu Goenawan Mohamad. Seingat saya sudah lama sekali saya membaca sajak Goenawan yang berjudul Asmarandana di blognya, dan saya juga masih ingat ada semacam penjelasan dari Goenawan di akhir puisinya itu.

 “…’Asmaradana’ ini berdasar sebuah opera Jawa, (yang mengisahkan) tentang Damarwulan, yang salah satu bagiannya, dalam bentuk tembang asmaradana. (Kisah ini) sangat bagus bagi saya. Damarwulan mengucapkan selamat tinggal pada Anjasmara, kekasihnya, karena dia mau berangkat perang dan dia tahu akan kalah. Saya bertolak dari sana. Dan kemudian sajak ini berkembang sendiri, tentu saja. Tentang perpisahan, tentang kefanaan, dan tentang –barangkali– persiapan kita menghadapi semuanya.”

Setelah mengingat semua mengenai Asmarandana milik Goenawan saya langsung saja membuka blog Halim dan tidak lupa juga membuka blog Goenawan. Saya baca dan saya cermati kedua sajak dengan judul yang sama itu. Ada yang berbeda dan ada yang sama persis. Entah Halim bisa di sebut menyadur atau tidak, tentunya saya tidak tahu.

Saya terlebih dahulu membaca lagi Asmarandana milik Goenawan, dan saya selau merasa ada unstr epic yang kental dalam membaca puisi Goenawan. Dan inilah Asmarandana milik Goenawan:

Asmaradana
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang
jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpis`han itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

Beberapa puisi Goenawan yang pernah saya baca adalah puisi yang mengandung unsur sejarah dan beberapa lagi cerita pewayangan seperti Gandari dan Dongeng Sebelum Tidur. Goenawan dalam puisinya tidak menggunakan aku lirik sebagai seorang yang mengalami hal itu, tapi si aku lirik dalam Asmarandana milik Goenawan ini sebagi seorang yang melihat kegelisahan antara Anjasmara dan Damarwulan yang akan berpisah, itu terlihat dari bait pertama pada baris terakhir “Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.” Baris itu menunjukan bahwa aku lirik melihat bahwa ada suasana sunyi diantara Ajasmara dan Damarwulan.

Aku lirik tak terlihat lagi sebagai orang yang melihat dan menceritakan kembali pada bait terakhir, karena menurut saya aku lirik pada bait terakhir mencoba memunculkan percakapan antara Damarwulan dan Anjasmara.

Asmarandana milik Goenawan memang sebuah puisi yang kental dengan cerita pewayangan, tapi bagaimana dengan Asmarandana milik Halim ? Saya kemudian langsung membaca Asmarandana milik Halim dengan seksama, walaupun nantinya saya kurang mengerti apa yang ingin diungkapkan halim dalam puisinya itu.

 Ini adalah Asmarandana milik Halim:

ASMARADANA
: Dari GM Bukan Untuk GM

_Ia dengar ringkih jangkrik dan tarian angin meresahi
daun-daun yang dingin, yang diguyur hujan tak berkesudahan.
Ia dengar tong sampah yg terguling, ngiau kucing, sengau
dari keran yang tak sempurna dimatikan. Ketika denyut
jantung berdegup dari bangkai waktu
yang telah dikerumuni dendam. Tapi,
diantara mereka berdua, saling bertukar desah
lewat telinga masing-masing.


_Ia ucapkan pengusiran itu,  ketegaan itu. Ia melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang
tak semuanya disebutkan,
lalu Ia membuka pintu.


_Ia tahu perempuan itu akan lebih cepat berjalan.
Sebab esok pagi, bila pada rumput halaman
ada tapak yang menjauh ke utara,
Ia takkan menyampaikan penyesalan menjadi maaf.
Sejak itu, Ia tutup lagi pintu,
Lalu mulai mencatat tapak demi tapak
   _Nier Indra, kakakku, tinggallah, seperti dulu.
   Tahun pun gegap dalam angka,  lalai menghitung hati.
  Lewat renyuh dan ketaksampaian, kulepaskan wajahmu
  melepaskan wajahku.

Terlihat sekali bahwa halim megambil inspirasi puisinya ini dari Goenawan, karena Halim menuliskan “: Dari GM Bukan Untuk GM”. Kita tahu bahwa GM adalah inisial dari nama panjang Goenawan Mohammad. Tapi apa yang dimaksud Halim menuliskan pesan itu saya kurang mengerti.

Antara Asmarandana Halim dan Asmarandana milik Goenawan sama-sama terdiri dari empat bait. Dan mungkin menurut saya cerita yang dibawa Halim dalam puisinya ini tidak bermuatan unsur pewayangan, tapi itu menurut pandangan subjektif saya. Maka dari itu saya akan mencoba membandingkan kedua puisi dengan judul yang sama dan dari penyair yang berbeda ini bait demi bait. Jika nanti hasil dari dari tulisan atau pembacaan saya dianggap kurang menyenangkan bagi kedua penyair saya meminta maaf, karena saya bukanlah pembaca puisi yang baik, saya hanya ingin membagi kegelisahan saya ketika membaca kedua puisi ini kepada orang lain.

Ya, saya mulai saja langsung pada bait pertama:

Dalam asmarandana milik goenawan bait pertama menggambarkan suasana sepi, dingin dan gelisah. Suasana sepi tergambar sayang jelas, karena tidak ada percakapan sama sekali yang ditunjukan dengan “tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata”, tapi dalam asmarandana milik halim suasana sepi itu seakan hilang dan diganti dengan birahi, karena halim menuliskan “tapi, diantara mereka berdua, saling bertukar desah lewat telinga masing-masing”. Dalam asmarandana milik goenawan juaga terdengar suara “kepak sayap kelelawar” dan “guyur sisa hujan” yang mejadikan suasana tergambar semakin sepi dan dingin. Sedangkan suasana gelisah digambarkan goenawan dengan “resah kuda” entah kenapa kuda itu resah, tapi menurut saya itu adalah lambang dari kegelisahan dimana anjasmara akan meninggalkan damarwulan untuk berperang. Sedangkan dalam asmarandana milik halim suara “kepak sayap kelelawar” diganti dengan “ringkih jangkrik” (yang meringkih bukannya kuda ya ?) selain itu hujan yang menjadikan suasana dingin dalam asmarandana milik halim belum berhenti “…hujan tak berkesudahan.”

Yang muncul dalam asmarandana milik halim adalah suasana acuh tak acuh, karena suasana ribut tak dihiraukan dan lebih sibuk dengan kegiatan bertukar nafas. Suasana gelisah hilang berganti menjadi suasana yang diselimuti berahi.

Dan, ada sebuah dendam di bait asmarandana milik halim “Ketika denyut jantung berdegup dari bangkai waktu yang telah dikerumuni dendam”. Entah dendan disini sebuah kiasan atau tidak, karena perasaan dendam hilang ketika dibaris terakhir ada kalimat “saling bertukar desah lewat telinga masing-masing”. Kekuatan kata dendam menjadi sirna dalam bait pertama.

Tapi antara halim dan goenawan, mereka sama-sama membawa misi yang sama, dan maksud yang sama. Yang disayangkan, halim membawa suasana dalam puisinya menjadi berbeda. Suasana modern muncul dalam puisi halim, sedangkan dalam puisi goenawan masih kental dengan suasana kerajaan dan pedesaan. Ada Hujan, ada kegelisahan, dan ada kesunyian, semua tertuang dalam kedua asmarandana milik kedua penyair ini. Tapi halim belum berhasil menguatkan asmarandananya seperti goenawan.

Selanjutnya pada bait kedua :

Gambaran kegelisahan semakin kuat dalam bait kedua asmarandana milik goenawan “Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.”. Damar wulan samakin gelisah karena dia harus meninggalkan anjasmara untuk melawan minak jingga. Tapi dalam puisi halim perpisahan diganti dengan pengusiran “Ia ucapkan pengusiran itu,  ketegaan itu. Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan,” pengusiran adalah sebuah kata yang memilki konotasi jelek dibanding perpisahan. Dan suasana gelisah yang ada dalam asmarandana milik goenawan, dihilangkan oleh halim. Kemudian diganti dengan suasana kasar, kemarahan dengan penggunaan kata “pengusiran”. Kemudian suasana kasar diperkuat halim dengan menuliskan “lalu ia membuka pintu”.

Halim mungkin mencoba membedakan maksud pada bait kedua puisinya, tapi masih ada yang sama persis dengan puisi goenawan “Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.”. pada baris ini mungkin halim langsung copy paste dari puisi goenawan, dan itu hanya dugaan saya saja. Maksud halim membedakan isi bait kedia puisinya saya rasa kurang total, karena ada baris yang sama persis digunakanya dalam bait kedua asmarandana miliknya.

Yang dimaksud peta nasib dalam puisi Asmarandana milik Goenawan adalah sebuah kehidupan yang sudah terlihat jelas, karena juka Damar wulan kalah maka Anjasmara akan ditinggal sendiri, dan jika Damar wulan menang Anjasmara juga akan ditinggal sendiri karena Damar wulan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi dan akan menikah dengan putri raja. Tapi Goenawan lebih menegaskan nasib Damarwulan kepada kematian dalam perjalanannya ke Blambangan dengan menulis “Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu.”. Tapi saya rasa peta nasib dalam Asmarandana milik Halim mempunyai makna berbeda dengan Asmarandana milik Goenawan. Peta nasib dalm Asmarandana milik Halim hanya berbicara mengenai kehidupan esok yang akan berubah setelah “ia membuka pintu”.

Ada yang berulang dan berubah dalam kedua puisi Asmarandana ini. Pada Asmarandana milik Goenawan ada larik “Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.”  dan itu berulang pada Asmarandana milik Halim, dan setelahnya ada yang berubah yaitu maksud dari lerik tersebut. Karena pada kedua penyair ini ada sejarah yang berbeda, yaitu jaman.

Bait ketiga:

Pada bait ketiga Asmarandana milik Goenawan ada kesedihan yang membuncah, karena Anjasmara tak lagi menangis, semua airmatanya telah habis karena melihat suaminya menjemput kamatian, itu terlihat dari “Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara,”. Kata utara di sini melambangkan kematian karena yang dipakai adalah cerita Asmarandana yang berasal dari jawa, dan dalam adat jawa jenasah orang yang telah meninggal dibaringkan membujur ke utara. (saya ambil dari buku Pradopo, tapi lupa judulnya apa)

Dan larik “ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi” anjasmara mencoba membuang semua kenangan bersama Damarwulan, karena Anjasmara tahu dia tidak akan bersama Damarwulan lagi. Anjasmara pasrahkan semuanya pada nasib.

Sedang pada Asmarandana milik Halim kesedihan itu seakan dibuang, karena hanya ada “perempuan itu akan lebih cepat berjalan.” Perempuan yang telah keluar dari pintu dan meninggalkannya tanpa rasa apapun karena “Ia takkan menyampaikan penyesalan menjadi maaf.” Dan kata utara yang melambangkan kematian pada Asmarandana milik Goenawan seakan tak memberikan arti yang besar dalam Asmarandana milik Halim, karena yang dominan dalam bait ketiga Asmarandana milik halim adalah “Ia takkan menyampaikan penyesalan menjadi maaf.”  Kemudian halim menambahkan “Lalu mulai mencatat tapak demi tapak” seperti ada penyesalan yang tertinggal kembali setelah “Ia tutup lagi pintu,” dai itu saya anggap gagal mencapai makna yang dalam.

Memang jika dilihat dan dicermati, kedua puisi ini mempunyai maksud yang sama, yaitu perpisahan tapi sebuah perpisahan yang sangat berbeda jauh. Jika saya mengartikanya ada unsur postmodern dalam Asmarandana milik Halim, itu tergambar melalui latar yang dipakai Halim. Kebutuhan seks dan sifat nonsense adalah sebuah ciri postmodern yang hanya sedikit-sedikit saya tahu. Sedangkan dalam Asmarandana milik Goenawan latar kerajaan memperkuat legenda Damarwulan dan Anjasmara yang memang dalam ceritanya berlatarkan kerajaan.

Dan selanjutnya adalah bait terkakhir yaitu bait keempat:

Ketika Damarwulan hendak berangkat ke blambangan atau bisa disebut medan perang, dia ingin agar Anjasmara tak lagi bersedih karena “Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.” yang dimaksud Goenawan dengan menuliskan larik itu mungkin tidak ada yang akan berubah dengan diri Anjasmara dan akan tetap seperti dulu, mereka berdua hanya akan berpasrah pada nasib. Lalu suasana pepisahan itu semakin diperkuat dengan pesan Damarwulan agar dia dan Anjasmara saling melupakan, agar semua kenangan mereka berdua hilang dan tak ada yang tersakiti antara mereka berdua, itu tergambar jelas di larik “Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu.” Suasana sedih, gelisah, dan perpisahan yang dibangun Goenawan dari bait pertama semakin kuat dalam bait terakhir ini, seperti ada yang berkesinambungan melalui enjambemen-enjambemen yang dibangun Goenawan dalam puisinya ini.

Sedangkan dalam Asmarandana milik halim sekali lagi ada kegagalan menurut saya, karena suasana yang penuh birahi di bait pertama hilang ketika saya mengetahui “Nier Indra, kakakku, tinggallah, seperti dulu. Tahun pun gegap dalam angka,  lalai menghitung hati.” Dan pengusiran yang ditulisakan di bait sebelumnya pun runtuh karena larik itu. Sepertinya halim mengalami kebingungan di sini karena semua suasana yang susah payah dibangunnya dari bait pertama sampai bait ketiga seperti hilang di bait ke empat, lalu larik “Lewat renyuh dan ketaksampaian, kulepaskan wajahmu melepaskan wajahku.” Mungkin mempunyai maksud yang sama dengan larik milik Goenawan. Tapi Halim gagal lagi membanfunnya. Selalu ada yang berubah di bait-bait puisi Halim, dan itu membuat saya bingung sebagai pembaca.

Dari keempat bait “Asmarandana” milik Halim dan “Asmarandana” milik Goenawan yang saya sambung-sambungkan itu, saya menemukan beberapa kegagalan dan perbedaan yang mencolok dalam kedua sajak ini.

Yang pertama adalah suasana yang sangat berbeda. Goenawan menggunakan suasana gelisah, sedih karena perspisahan dan latar kerajaan, sedangkan Halim menggunakan latar modern dan suasana yang hampir sama dengan Goenawan, tapi menurut saya dia gagal dengan memasukkan birahi kedalam suasana gelisah itu. Yang kedua adalah konsistensi Halim yang hilang, Halim sangat pintar membangun puisinya dari bait pertama sampai bait ketiga, tapi kita dibuat jatuh di bait keempat puisinya. Halim sepertinya ingin membawa pembaca untuk naik turun gunung dalam puisinya, sedangkan Goenawan membawa pembaca untuk turut merasakan kegelisahan Damarwulan dan Anjasmara.

Poin ketiga adalah perbedaan kesan yang tercipta saat membaca kedua puisi ini. Pada Asmarandana milik Goenawan, pembaca dengan mudah akan masuk kedalam suasana sedih karena membayangkan nasib Anjasmara yang akan ditinggalkan oleh Damarwulan, mungkin pembaca akan menempatkan dirinya sebagai Anjasmara jika membaca Asmarandana milik Goenawan ini. Lalu pada Asmarandana milik Halim pembaca sepertinya akan dibuat berputar-putar, karena jika membaca judulnya pembaca akan membayangkan cerita Anjsmara dan Damarwulan, tapi kenyataannya malah dalam puisi itu tidak ada sngkut pautnya dengan cerita Asmarandana. Selain itu pembaca akan semaki bingung dengan konsistensi halim yang berubah-ubah karena penampatan aku lirik yang semrawut.

     Dan poin yang terakhir adalah kagagalan Halim membawa Asmarandana milik Goenawan kedalam Asmarandana miliknya, karena tak ada unsur kerajaan dan unsur jawa yang berhubungan dengan cerita Asmarandana. Tapi disamping semua itu menurut saya Halim adalah seorang penyair yang berbakat, karena diksi yang dipakainya melampaui diksi yang dipakai dalam Al-Quran.[Sadam Husaen]


Read Post | komentar
*

Ngerumpi dan Ruang Protes

08 February 2012

   Selasa malam (7/2), saya ngumpul bareng dengan teman-teman satu kampus di warung kopi DPRD Jember. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari system pengajaran dosen yang tidak menyenangkan, tentang temen cewek di Facebook, Fotografi dan hal-hal kecil lainnya yang kadang berbau ‘gosip’.

   Jika dipikir-pikir, meskipun dalam aturan agama maupun etika, yang namanya ‘gosipi’ atau lebih akrab dikatakan ngerumpi, itu kurang baik,  namun rasanya ada gunanya juga. Di warung kopi maupun dimana pun itu, ketika terbentuk  kerumunan, pasti terjadi proses dialogis.  Saling tukar pengalaman, gagasan, maupun canda tawa. Di situlah, ruang kebebasan untuk berbicara dan berpendapat bisa kita nikmati. Selain itu muncul beberapa kritik untuk saling membangun antar teman maupun siapapun yang menjadi bahan perbincangan sebagai bahan korenksi diri, meskipun objek yang dibicarakan terkadang tidak ada disitu.

   Sebenarnya saya sendiri ‘ogah’ dengan yang namanya tontonan infotaiment seputar selebritis di telivisi dan di berbagai media. Terkesan hanya informasi yang tidak ada sangkut pautnya dengan kebutuhan realitas problem di masyarakat. Sebuah kepentingan media infotaiment, maupun artis sebagai sarana popularitas individual yang saling membutuhkan antara keduanya.

   Ada berbedaan mendasar antara ngerumpi secara terbuka dengan tertutup. Ngerumpi secara tertutup hanya akan dinikmati oleh orang-orang dalam kerumunan itu sendiri. Ngerumpi secara terbuka seperti di media selebriti, akan dipublikasi di kahalayak umum melalui media.  seseorang yang dijadikan bahan perbincangan memang saling mengetahui. Akan tetapi hal tersebut secara tidak sadar akan mengkonstruk pemikiran publik utuk turut mengikuti pola hidup mereka yang cenderung hedon. Tentang popularitas selebriti yang menjadi tren bagi kalangan muda, turut  digunakan dalam bahasa tren sehari hari. “Sesuatu banget,” ala Syahrini misalnya. Namun Saya akan sepakat jika ngerumpi dalam bentuk apapun bisa mengandung unsur yang mendidik.

  Awalnya saya malas untuk keluar dari kontrakan untuk malam itu, entah itu ngopi maupun hal lainnya. Tak lama kemudian, Firman tiba-tiba mengirimi saya pesan singkat. Ia mengajak ‘ngopi’ mala ini. Rasanya tidak enak mau menolak ajakannya, karena kami cukup lama tidak ngopi bareng. Sambil berfikir, saya sengaja tidak membalas pesan tersebut. Sampai akhirnya firman mengirim pesan lagi, “Mbot piye? Mesti lak diSMS gak tau mbales.” Setelah membaca, serentak saya langsung membalasnya, seolah baru tahu kalau dia mengirim pesan. “Heh, iyo. Ayo nangdi?” Saya menjawab dengan penuh antusias, meskipun tidak dalam fikiran saya.

   Akhirnya saya berangkat bersama Diki menuju Kost dimana firman tinggal, sebelum berangkat menuju warung kopi. Sesampai di warung kopi, firman merasa aneh dengan tingkah laku saya yang menurutnya cenderung diam. “Untuku sakit mbot, seng mburi tukul maneh untuku,” jawabku. Oooo iyo, pancen loro, aku yo tau. Sejak itu, rasanya Firman sudah tau mengapa saya terlihat kurang antusias untuk ngopi malam itu.

   Terlepas dari itu semua, saya sempat ingat dengan kejadian yang ada di perkebunan PTPN silosanen,  Jember. Setelah membaca makalah Erna Rochiyati .S, Yang juga membahas sebuah rasa perlawanan melalui ‘gosip’. Suatu makalah yang sempat disajikan dalam  Seminar Nasional “Mengangan Ulang (Ke)Indonesia(an)” Pekan Chairil Anwar. Fakultas Sastra, Universitas Jember, 18-19 Mei 2011.

   Pada awalnya, terjadi peran ganda yang dijalankan oleh ibu-ibu rumah tangga pekerja buruh perkebunan PTPN Silosanen. Peran ganda tersebut berupa pekerjaan sebagai buruh dan diwilayah domestik. Pekerjaan tersebut dilakukan bukan semata sebuah aktulisasi diri untuk bekerja karena keinginan. melainkan karena tuntutan untuk turut membantu kebutuhan finansial rumah tangga, karena gaji suami yang juga  bekerja sebagai buruh terbilang tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

   Para buruh tersebut tidak mendapat upah kerja yang sesuai dengan keringat bercucuran, sebesar 350 ribu perbulan. Selain itu jaminan kesehatan yang tidak memadai juga dirasakan. Meskipun demikian, hal tersebut tidak membuat mereka tinggal diam. Muncul benih perlawanan berupa ‘ngerumpi’ untuk membicarakan keluhan yang mereka alami tentang harga sembako yang naik dan hal lain seputar kebijakan pemerintah maupun pihak perkebunan.

   Sebuah gerakan protes yang halus, Menurut Kartodirjo, Banyak macam bentuk gerakan protes, mulai hanya sekedar diam yang melambangkan sebuah perlawanan sampai gerakan radikal. Ngerumpi atau rasan-rasan merupakan gerakan diam, Sebuah protes tertutup tanpa menyuarakannya langsung kepada Objek yang diperbincangan.

   Barangkali karena meraka memang merasa butuh dengan pekerjaan tersebut, sehingga tidak berani protes.Selain itu merasa ada penghasilan rutin setiap bulan, tempat tinggal yang sudah disediakan dan tesedia rutinitas pekerjaan, meskipun dari pekerjaan tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan hidup.

   Rendahnya pendidikan merupakan salah satu penyebab terjadinya kemiskinan dan kesenjangan dari para buruh itu sendiri, kurangnya kesadaran politis yang membuat mereka cenderung menentukan sikap ‘diam’. Namun dengan ‘rasa terekspolitasi’ karena pemerintah dan sistem perkebunan yang belum mampu menyejahterakan. para buruh menyampaikan protes dengan cara ngerumpi untuk saling berbagi cerita layaknya diwarung kopi. [Uliel Petrix/Ideas]
Read Post | komentar
*

Kepulangan dan Sebuah Repetisi Hidup

05 February 2012



−Rumah itu selalu rawan jadi medan tempur kok, jadi siapkan dirimu.
(Arys SiBerang-Berang)


   Itulah yang dikatakan Mas Arys mengenai keadaan rumah, saya selalu ingat kata-kata itu kerena kehidupan di rumah saya selau diwarnai dengan caci maki dan terikan, dan kadang kala diselingi oleh tangis tersedu.

  Keluarga saya memang bukan keluarga yang berpunya. Berpunya di sini juga tidak miskin atau bahkan kaya karena keluarga saya bisa mencukupi kehidupan sehari-harinya dan itu saya sebut sederhana.

   Bapak saya adalah seorang tenaga pengajar di sebuah Sekolah Dasar di sebuah desa di wilayah Lamongan, Ibu saya seorang penjahit yang terpaksa meninggalkan mesin jahitnya karena serangan diabetes, kakak pertama saya juga adalah seorang tenanga pengajar di Sekolah Menengah Atas, kakak kedua saya juga bekerja sebagai tenaga pengajar, tapi sayangnya dia tidak seberuntung bapak dan kakak pertama saya yang sudah menjadi pegawai negeri, dia hanya mengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar milik orang Cina, dan yang terakhir dari anggota keluarga adalah saya. Saya adalah satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga, dan entah mengapa saya selalu menjadi tempat curahan amarah bapak. Saya masih bersekolah di sebuah Universitas di Jember.

   Saya memang tidak sepintar kakak-kakak perempuan saya, itu terbukti karena kemarin saya menyerah ketika kuliah di jurusan sastra inggris dan lebih memilih pindah ke jurusan sastra Indonesia. Tapi seperti sama saja saya pindah, karena nilai saya tetap jeblok dan itu memicu sebuah perang seperti yang dikatakan oleh Mas Aris.

   Ketika saya pulang dan bapak saya tahu nilai saya jeblok, dia langsung memarahi saya dengan makian-makian yang mungkin akan memancing emosi. Tapi saya sadar yang memaki saya adalah seseorang yang telah membiayai sekolah saya. Akhirnya saya memutuskan untuk diam dan menerima semua makian itu.

   Rumah seharusnya memang menjadi tempat terbaik bagi kita, tapi ketika rumah menjadi sebuah neraka dengan berbagai macam siksaan dan makian ketika kita pergi lama dan pulang kembali ke sana adalah sebuah ilusi. Dan sekarang ilusi itu keluar dari khayalan dan terjadi di dunia nyata.

   Bapak memang seseorang dengan tempramen tinggi, akibatnya semua orang di rumah pernah dicaci olehya, entah itu karena dia sayang dengan anggota keluarganya atau hanya membuang semua emosi yang ada dalam otaknya.

   Sekarang di rumah cuma ada dua orang, bapak dan ibu karena kedua kakak saya sudah menikah dan ikut suami mereka, sedangkan saya melanjutkan belajar saya di Jember.

   Saya hanya akan pulang ke rumah jika ada libur panjang dan ada sebuah kejadian yang mungkin tak ada dalam kamus keluarga yang bahagia. Kepulangan, ya kepulangan bak sebuah kepergian lain tanpa kita sadari. Sebuah kepulangan bukan hanya ketika kita kembali ke tanah dimana ari-ari kita ditanam. Seperti saya yang mengganggap kepulangan sebagai sebuah repetisi dalam hidup yang tak akan bisa kita hindari.

   Kita akan mengalami kepulangan setiap hari, bahkan setiap jam. Karena bukan hanya rumah tempat kita berpulang, dan rumah bagi saya sekarang sama seperti apa yang dikatakan Mujibur Rohman dalam puisinya “rumah yang asing, masa lalu yang sumbing/kurelakan segalanya/tertinggal sebagai catatan/luka”. Karena rumah saya bukan lagi tempat untuk memanjakan diri, melemaskan otot-otot yang tegang, atau bersenang-senang sesuka hati, di rumah saya sekarang hanya ada amarah dan sebuah konflik tanpa ujung. [Sadam Husaen/Ideas]
Read Post | komentar
*

Nenek

30 December 2011

Oleh: Diekey Lalijiwo

Siang itu saya ngopi di warung Bulek. Ini siang yang terkesan sedikit cepat. Mungkin karena begitu tebalnya awan hitam melindungi atap rumah dari sinar mentari. Saya satu meja dengan empat orang teman. Setiap meja ada dua kursi panjang yang masing-masing muat diisi tiga orang. Kami berbincang tentang topik yang beragam.


Ketika empat kopi yang kami pesan hanya tersisa ampas. Datang seorang nenek tua mendekat kepada kami. Sambil mengulurkan tangannya dia meminta sedekah dari kami. Tanpa berpikir panjang beberapa orang dari kami memberinya. Sedangkan saya pun ikut merogoh kantong.

Sialnya uang saya tinggal dua ribu. Itupun untuk bayar kopi nanti. Kemudian saya ingin berbagi sedikit tentang nenek itu. Tentu saja dengan menyumbangkan pikiran. Saya berjanji akan menulis cerita tentang ini. Saat itu, tak ada yang saya punya untuk dibagi, selain tawa dan pikiran. 

Setelah nenek itu pergi. Salah seorang teman saya bercerita. Ternyata nenek itu tinggal tak jauh dari sini. Parahnya lagi, nenek itu menghidupi lima cucu dari anaknya yang tak lama meninggal. Setelah teman saya bercerita. Kami hanya bisa diam. Dan mungkin berkhayal. Atau berimajinasi tepatnya. Tiba-tiba saya berimajinasi tentang suatu hal. Sistem perekonomian yang lebih muda dari pada Republik milik Plato. Sosialis.

Mungkin berawal dari keheranan yang berlebihan. Perihal beberapa negara yang sangat menginginkan sistem sosialis diterapkan, sebagai acuan jalannya perekonomian. Terlebih, mereka yang ingin menyusuri jembatan emas itu, demi sebuah tujuan yang murni. Negeri komunis.

Sebenarnya seperti apa gagasan ideal sistem tersebut. Hingga tak jarang untuk merealisasikan sistem itu memerlukan pengorbanan yang sangat lama. Tidak mengherankan jika sosialis partikular selalu menjadi sebuah ketakutan yang sangat besar. Bahkan akan selalu muncul pertentangan keras dari geng dogmatis islam, terkait sistem ini. Padahal jika mereka menyadari, jika islam telah merealisasikan sistem sosialis, semenjak tiga abad sebelum Karl Marx lahir, mungkin mereka akan malu. Ternyata islam itu cikal bakal komunis. Hah!

Saya pernah berpikir ulang. Bukankah sistem ekonomi sosialis telah lahir lama di sekitar kita. Misalkan saja di beberapa komunitas. Mereka bekerja atas dasar kolektivitas. Bahkan mereka sangat menghargai kebersamaan dalam kelas sosial. Tak ada jabatan tertentu yang membuat satu individu lebih agung daripada lainnya. Peran dan tanggung jawab menjadi milik bersama. Bukankah sudah banyak?

Jika dalam sistem kapitalisme, setiap individu harus berusaha memenuhi kehidupannya sendiri. Maka sosialis berlawanan dengan hal itu. Sosialis mengutamakan kebersamaan. Saling menolong untuk mencapai kesejahteraan bersama-sama. Identik sekali dengan apa yang Semaoen bilang, “Sama rata, sama rasa”. Atau “Satu untuk semua, semua untuk satu”.

Selain itu dalam sosialis, tak dikenal apa yang disebut dengan kepemilikan pribadi. Sehingga kekayaan material yang dimiliki masing-masing warga adalah sama. Bahkan sebidang tanah dimiliki dan dirawat secara kolektif. Secara bersama-sama tanah tersebut dikembangbiakkan. Misalnya dengan menjadikan tanah tersebut sebagai sawah, yang nantinya dirawat bersama. Ketika panen tiba, hasil tersebut dibagikan secara rata. Alat-alat produksi yang dimiliki secara bersama-sama akan menjadikan mudah untuk mengelola tanah tersebut. Dengan demikian warga tidak perlu menyewa traktor atau menyewa alat pemanen padi. 

Segala macam alat produksi menjadi milik bersama. Pengelola diserahkan langsung kepada negara. Tak ada peran pihak swasta di sini. Sehingga ketika masyarakat ingin menggunakan alat produksi, maka mereka akan menggunakan secara gratis. Sedangkan kepala suku hanya bertugas mengawasi. Kepala suku?

Bisa dikatakan semacam itu, pemimpin pusat bukanlah seorang pe(me)rintah. Lebih jauh lagi mereka memaknainya sebagai pemimpin suku. Fidel Castro pernah bilang, kurang lebih seputar pengakuan atas dirinya, jika dia bukanlah pe(me)rintah, melainkan kepala suku. 

Lantas apa bedanya? Wah, saya sendiri bukan pelajar yang fokus mengkaji masalah ini. Namun, jika asumsi sementara yang kalian inginkan. Mungkin kepala suku lebih dekat pada para anggota sukunya, daripada seorang presiden. Yang lebih kental lagi, seorang kepala suku akan terus berusaha mempertahankan budaya nenek moyangnya. 

Di sisi lain, tak ada tekanan serius bagi pekerja di luar kemampuannya. Menurut Arief Budiman, apabila penekanan kapitalisme adalah setiap orang bekerja menurut kebutuhan pasar dan dibayar sesuai dengan prestisnya. Maka sosialisme mendasarkan diri pada, setiap orang bekerja menurut kemampuan dan dibayar menurut kebutuhannya. 

Dalam hal ini, jika ada seorang nenek yang mempunyai kebutuhan tinggi untuk menyekolahkan kelima anaknya. Namun nenek tersebut tidak mampu bekerja terlalu berat. Maka, dia diperbolehkan untuk bekerja semampunya. Selain itu, akan mendapat upah kerja sesuai dengan berapa yang dia butuhkan. Bahkan upah nenek tersebut bisa lebih besar daripada seorang dokter yang hanya butuh untuk menghidupi dirinya sendiri, belum berkeluarga.
 
Nek, apa kita terlahir di negri yang salah?
Read Post | komentar
*

Pertanyaan dan Kerendahan Jiwa

15 October 2011

Oleh: Diekey Lalijiwo


Saya tahu bahwa saya tidak tahu” (Socrates)

    Sosok berbadan gemuk dan kumuh itu terus mengejar lawan bicaranya dengan serangkaian pertanyaan. Dia adalah Socrates. Entahlah betapa geramnya jika saya harus memposisikan diri sebagai lawan bicaranya. Mungkin yang akan saya lakukan ialah secepatnya balik ke kamar kost dan kembali dengan topik pembicaraan yang telah matang. Tentu saja beserta berbagai jawaban dari segala kemungkinan yang akan dia tanyakan. Akan tetapi saya akan segera menyadari jika dia sedang tidak memposisikan diri sebagai tuhan. Dalam artian segala pembicaraan yang dia sampaikan kepadaku tidak beratribut kebenaran yang bersifat absolut (kebenaran final tanpa sanggahan). Dia tidak sedang merendamku dalam genangan doktrinnya, melainkan merangkulku untuk ikut serta berpikir bersama. Dari sanalah muncul sebuah keberanian untuk berpikir.


    Jika ide adalah sebuah bayi, maka socrates selalu berusaha membantu proses kelahiran bayi masyarakat sekitarnya. Dan sebuah jawaban takkan berdiam diri di garis final dalam rentang waktu yang terlalu lama. Sebagaimana Socrates yang selalu menganggap segala kebenaran tentang semesta tak lebih dari sekedar asumsi sementara. Mengenai hal ini teman saya pernah mengatakan, “Bagaimana jika sebuah pertanyaan adalah jawaban dari pertanyaan itu sendiri?”. Tiba-tiba temanku mengajak berolahraga otak. Tentu saja sebuah kalimat dari temanku itu segera membuat pagi hari itu semakin buta.


    Betapa kagetnya jika seandainya kamu mendapat jawaban yang bertanya. Tak jauh dari hal ini, Socrates pun selalu mengawali diskusinya dengan sebuah pertanyaan. Semisal tanpa aba-aba dia berkata, “Apa itu kebijaksana`n” atau “apa itu keadilan”. Lantas ketika kamu selesai menjawab, maka segeralah muncul pertanyaan baru begitu seterusnya. Setelah ludah berubah menjadi busa tebal karena dialog terus berjalan menabrak-nabrak tanpa henti. Disanalah para peserta olahraga intelektual itu memahami jika mereka tak sepenuhnya mengetahui kebenaran yang sejati.


    Socrates selalu meragukan segala hal selain keraguan itu sendiri. Disamping ajakan untuk selalu meletakkan keraguan di gardu terdepan itu. Dia selalu berusaha merendahkan dirinya sendiri. Tentu saja demi sebuah kebijaksanaan dalam usahanya melacak sebuah kebenaran. Pantas saja jika Oracle Delphi mengatakan bahwa orang yang paling bijaksana ialah Socrates. Hal tersebut karena Socrates selalu menganggap dirinya sebagai orang terbodoh di antara seluruh manusia. Karena baginya pengetahuan lahir dari upaya mengoreksi sebuah asumsi kemudian menyanggah asumsi tersebut dengan bertanya. Lantas apakah sesuatu yang patut dikatakan sebagai pengetahuan ialah jawaban yang bertanya?
Read Post | komentar
 
© Copyright Ideas Online 2011 - Some rights reserved | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all